Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Sumbarzone
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
Sumbarzone
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Olahraga
  • Kolom & Opini
Home Kolom & Opini

Berhala Sembako dari Lumpur hingga Kepulan Asap Karhutla

Aqmal M. Zuki by Aqmal M. Zuki
17/10/2026
in Kolom & Opini, Nasional, Politik
A A
0
ilustrasi

ilustrasi

FacebookTwitter

Kamera selalu lebih mencintai pejabat yang basah kuyup atau bermasker tebal di lokasi bencana. Dalam dua bulan terakhir saja ketika banjir bandang (galodo) kembali menerjang kawasan Arosuka di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) merendam pemukiman di Aceh, hingga kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencekik langit Kalimantan, Sumatera, dan Maluku panggung kepahlawanan instan kembali digelar. Di tengah lumpur setinggi pinggang atau kepulan asap pekat, seorang tokoh yang mengulurkan sekantong beras, mi instan, dan masker gratis akan selalu panen puja-puji. Di linimasa media sosial, potret itu segera dikultuskan sebagai bukti nyata “pemimpin yang merakyat”.

Sebaliknya, kajian hidrologi yang berdebu di meja birokrasi, audit konsesi lahan gambut, dan cetak biru restorasi DAS yang dikerjakan dalam senyap tak pernah mendapat tepuk tangan. Hingga pertengahan Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 2.096 peristiwa bencana di Tanah Air, yang 99,14 persennya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang memicu karhutla. Angka yang nyaris menyentuh seratus persen itu adalah alarm keras bahwa krisis ini berakar pada rusaknya daya dukung lingkungan, bukan sekadar “takdir cuaca”. Sayangnya, kerja teknokratis mencegah bencana terlalu rumit untuk dijadikan konten, terlalu abstrak untuk memancing air mata haru.

Kita juga kerap terkesima oleh seremoni tanam seribu pohon di lahan kritis yang dilakukan tanpa kalkulasi ekologis sekadar menancapkan bibit di tanah yang salah, tanpa analisis daya serap akar atau tata ruang hulu-hilir. Publik menyebutnya kepedulian lingkungan. Padahal, itu tak lebih dari kosmetik hijau. Ketokohan yang bekerja secara terukur menghentikan alih fungsi hutan di hulu, menertibkan izin tambang dan kebun, hingga merombak drainase kota untuk ketahanan dua dekade ke depan justru kerap dianggap dingin dan tak berprestasi. Sebab, bencana yang berhasil dicegah tidak pernah menjadi berita. Tidak ada panggung heroik di atas tanah yang kering dan langit yang biru.

Terlalu mudah menyalahkan pemerintah atas kemandekan bangsa ini. Namun, jika mau jujur berkaca, para politisi hanyalah pedagang yang menjajakan barang sesuai selera pasar. Ketika mayoritas masyarakat masih mengidap rabun dekat kolektif lebih memuja “pertolongan pertama” yang dramatis ketimbang penanggulangan struktural yang sunyi maka panggung politik kita hanya akan melahirkan para pemadam kebakaran yang gemar bermain korek api. Selama kita masih menilai kapasitas pemimpin dari seberapa cepat ia membagikan sembako di tenda pengungsian, bukan dari seberapa tegas ia menjaga ekosistem agar tenda itu tak perlu didirikan, selama itu pula kita sedang merayakan kemunduran kita sendiri.

cacat struktural di tingkat negara sesungguhnya hanyalah cermin raksasa dari cacat mentalitas di ruang-ruang privat kita. Demokrasi transaksional tidak lahir dari ruang hampa; ia tumbuh subur dari rahim masyarakat termasuk generasi mudanya yang mengidap ketergantungan akut pada validasi instan dan alergi terhadap pembedahan akar masalah.

Secara etimologis, kata “radikal” berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Menyelesaikan masalah secara preventif dan struktural adalah kerja radikal: menggali ke bawah permukaan tanah yang gelap, memotong benalu di hulu, dan merombak fondasi yang keropos. Masalahnya, membongkar akar selalu menyakitkan, melelahkan, dan tidak memberikan kepuasan seketika.

Lihatlah bagaimana pola pikir ini bekerja dalam keseharian mayoritas masyarakat dan anak muda hari ini: kita jauh lebih mengapresiasi teman yang memberi makan ego pribadi daripada teman yang memikirkan masalah kita sampai ke akar-akarnya.

  1. Ilusi Empati dan Dopamin Instan (Politik “Sembako Emosional”) Dalam pergaulan sehari-hari, ketika seseorang terpuruk entah karena kebangkrutan finansial akibat gaya hidup konsumtif, kegagalan karier, atau relasi yang berantakan siapa yang paling dicintai? Hampir selalu teman yang datang membawa “pertolongan pertama” bagi ego: yang menepuk bahu sambil berkata “kamu tidak salah, keadaan saja yang jahat”, yang mengajak nongkrong untuk melupakan masalah sejenak, atau yang meminjamkan uang darurat tanpa bertanya mengapa kebocoran itu terus berulang. Teman semacam ini memberi kita dopamin instan. Ia membelai luka kita tanpa memaksa kita berubah. Dalam skala negara, teman pemuas ego ini persis seperti tokoh yang datang membagikan sembako di tengah kubangan banjir: ia membuat kita merasa diperhatikan saat krisis, sambil membiarkan struktur masalah yang menenggelamkan kita tetap utuh.
  2. Kebenaran yang Dingin Dianggap Musuh (Nasib Kerja Preventif) Sebaliknya, bagaimana kita memperlakukan teman yang berpikir sampai ke akar-akarnya? Teman yang duduk bersama kita, membedah kebodohan manajemen keuangan kita, mengkritik kemalasan kita, dan memaksa kita membangun ulang disiplin hidup dari nol agar tak jatuh ke lubang yang sama? Dalam kultur anak muda yang memuja kenyamanan semu, teman semacam ini sering kali dicap dingin, “kurang berempati”, menghakimi, atau bahkan dijauhi karena merusak suasana hati (mood). Padahal, dialah yang sedang melakukan kerja mitigasi jangka panjang. Sama persis dengan nasib teknokrat atau pemimpin yang menolak populisme bantuan instan demi memperbaiki tata ruang dan ekosistem hulu: kerja kerasnya tidak membelai ego pemilih, terasa kaku, penuh larangan, dan hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian ketika krisis tak jadi meledak.
  3. Transaksi Kenyamanan Sesaat Di sinilah letak simpul filosofisnya. Ketika di meja kopi saja kita lebih memilih kebohongan yang menghibur ego ketimbang kebenaran yang menyembuhkan akar masalah, mustahil mengharapkan kita menjadi pemilih yang rasional di bilik suara. Kita telah melatih otak kita untuk bertransaksi dengan kenyamanan jangka pendek. Kita menukar masa depan yang sehat dengan pereda nyeri sesaat.

Pada akhirnya, politisi yang gemar memanggul karung beras di depan lensa kamera atau menanam bibit pohon secara seremonial tidak sedang menipu masyarakat. Mereka justru sangat memahami psikologi kita: bangsa yang di level personalnya lebih suka dibelai egonya saat jatuh, ketimbang diajak berpikir keras agar tidak terperosok lagi. Selama kita masih memusuhi teman yang membongkar akar masalah kita dan memuja teman yang sekadar memanjakan keluhan kita, selama itu pula bencana di negeri ini akan terus menjadi panggung sirkus tahunan yang tak pernah kehilangan penonton.

Tags: BencanaKarhutlanasionalOpinipolitik
ShareTweet
Previous Post

Model MIRAI Berbasis Engineering dan Aktivitas Olahraga untuk Deteksi Dini dan Pengendalian Risiko Skoliosis

Aqmal M. Zuki

Aqmal M. Zuki

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Poster Diskusi Kader : Talkshow Nasional

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
DPRD Kota Pariaman bersama Forkopimda dan pimpinan OPD mengikuti rapat paripurna penetapan Perda APBD-P TA 2025. (Dok: Pemko Pariaman)

DPRD dan Pemko Pariaman Tetapkan Perda APBD-P TA 2025

20 Agustus 2025
Istano Basa Pagaruyung di Batusangkar

Mengenal Batusangkar: Kota Budaya Yang Bersejarah

25 Juni 2024
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

4 Mei 2025
Air Terjun Nyarai

Keindahan Air Terjun Nyarai Gamaran: Surga Tersembunyi di Sumatera Barat

Danau Talang

Danau Talang: Destinasi Wisata Alam Indah di Sumatera Barat

Di bawah langit jingga, Istano Basa Pagaruyung bercerita tentang sejarah, kemegahan, dan keabadian budaya. (Foto: @rudyci2016)

Fakta Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Bakso Lava Viral

Bakso Lava Viral di Kota Padang yang Mengguncang Lidah: Teras Kelapa

ilustrasi

Berhala Sembako dari Lumpur hingga Kepulan Asap Karhutla

17 Oktober 2026
Dokumentasi Penulis

Model MIRAI Berbasis Engineering dan Aktivitas Olahraga untuk Deteksi Dini dan Pengendalian Risiko Skoliosis

5 Oktober 2026

News Update: Gempa Guncang Nias Selatan, Terasa hingga Padang

18 Agustus 2026
( Dosen Prodi PBSI FBS UNP Gelar Pelatihan Gamifikasi  bagi Guru di Nagari Tiku V Jorong. Doc. PBSI)

Prodi PBSI FBS UNP Gelar Pelatihan Gamifikasi bagi Guru di Nagari Tiku V Jorong

15 Agustus 2026

Berita Terkait

ilustrasi

Berhala Sembako dari Lumpur hingga Kepulan Asap Karhutla

17 Oktober 2026
Dokumentasi Penulis

Model MIRAI Berbasis Engineering dan Aktivitas Olahraga untuk Deteksi Dini dan Pengendalian Risiko Skoliosis

5 Oktober 2026

News Update: Gempa Guncang Nias Selatan, Terasa hingga Padang

18 Agustus 2026
( Dosen Prodi PBSI FBS UNP Gelar Pelatihan Gamifikasi  bagi Guru di Nagari Tiku V Jorong. Doc. PBSI)

Prodi PBSI FBS UNP Gelar Pelatihan Gamifikasi bagi Guru di Nagari Tiku V Jorong

15 Agustus 2026
  • Home
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Hubungi Kami: +62 877-3827-4008

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In