Kamera selalu lebih mencintai pejabat yang basah kuyup atau bermasker tebal di lokasi bencana. Dalam dua bulan terakhir saja ketika banjir bandang (galodo) kembali menerjang kawasan Arosuka di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) merendam pemukiman di Aceh, hingga kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencekik langit Kalimantan, Sumatera, dan Maluku panggung kepahlawanan instan kembali digelar. Di tengah lumpur setinggi pinggang atau kepulan asap pekat, seorang tokoh yang mengulurkan sekantong beras, mi instan, dan masker gratis akan selalu panen puja-puji. Di linimasa media sosial, potret itu segera dikultuskan sebagai bukti nyata “pemimpin yang merakyat”.
Sebaliknya, kajian hidrologi yang berdebu di meja birokrasi, audit konsesi lahan gambut, dan cetak biru restorasi DAS yang dikerjakan dalam senyap tak pernah mendapat tepuk tangan. Hingga pertengahan Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 2.096 peristiwa bencana di Tanah Air, yang 99,14 persennya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang memicu karhutla. Angka yang nyaris menyentuh seratus persen itu adalah alarm keras bahwa krisis ini berakar pada rusaknya daya dukung lingkungan, bukan sekadar “takdir cuaca”. Sayangnya, kerja teknokratis mencegah bencana terlalu rumit untuk dijadikan konten, terlalu abstrak untuk memancing air mata haru.
Kita juga kerap terkesima oleh seremoni tanam seribu pohon di lahan kritis yang dilakukan tanpa kalkulasi ekologis sekadar menancapkan bibit di tanah yang salah, tanpa analisis daya serap akar atau tata ruang hulu-hilir. Publik menyebutnya kepedulian lingkungan. Padahal, itu tak lebih dari kosmetik hijau. Ketokohan yang bekerja secara terukur menghentikan alih fungsi hutan di hulu, menertibkan izin tambang dan kebun, hingga merombak drainase kota untuk ketahanan dua dekade ke depan justru kerap dianggap dingin dan tak berprestasi. Sebab, bencana yang berhasil dicegah tidak pernah menjadi berita. Tidak ada panggung heroik di atas tanah yang kering dan langit yang biru.
Terlalu mudah menyalahkan pemerintah atas kemandekan bangsa ini. Namun, jika mau jujur berkaca, para politisi hanyalah pedagang yang menjajakan barang sesuai selera pasar. Ketika mayoritas masyarakat masih mengidap rabun dekat kolektif lebih memuja “pertolongan pertama” yang dramatis ketimbang penanggulangan struktural yang sunyi maka panggung politik kita hanya akan melahirkan para pemadam kebakaran yang gemar bermain korek api. Selama kita masih menilai kapasitas pemimpin dari seberapa cepat ia membagikan sembako di tenda pengungsian, bukan dari seberapa tegas ia menjaga ekosistem agar tenda itu tak perlu didirikan, selama itu pula kita sedang merayakan kemunduran kita sendiri.
cacat struktural di tingkat negara sesungguhnya hanyalah cermin raksasa dari cacat mentalitas di ruang-ruang privat kita. Demokrasi transaksional tidak lahir dari ruang hampa; ia tumbuh subur dari rahim masyarakat termasuk generasi mudanya yang mengidap ketergantungan akut pada validasi instan dan alergi terhadap pembedahan akar masalah.
Secara etimologis, kata “radikal” berasal dari bahasa Latin radix, yang berarti akar. Menyelesaikan masalah secara preventif dan struktural adalah kerja radikal: menggali ke bawah permukaan tanah yang gelap, memotong benalu di hulu, dan merombak fondasi yang keropos. Masalahnya, membongkar akar selalu menyakitkan, melelahkan, dan tidak memberikan kepuasan seketika.
Lihatlah bagaimana pola pikir ini bekerja dalam keseharian mayoritas masyarakat dan anak muda hari ini: kita jauh lebih mengapresiasi teman yang memberi makan ego pribadi daripada teman yang memikirkan masalah kita sampai ke akar-akarnya.
- Ilusi Empati dan Dopamin Instan (Politik “Sembako Emosional”) Dalam pergaulan sehari-hari, ketika seseorang terpuruk entah karena kebangkrutan finansial akibat gaya hidup konsumtif, kegagalan karier, atau relasi yang berantakan siapa yang paling dicintai? Hampir selalu teman yang datang membawa “pertolongan pertama” bagi ego: yang menepuk bahu sambil berkata “kamu tidak salah, keadaan saja yang jahat”, yang mengajak nongkrong untuk melupakan masalah sejenak, atau yang meminjamkan uang darurat tanpa bertanya mengapa kebocoran itu terus berulang. Teman semacam ini memberi kita dopamin instan. Ia membelai luka kita tanpa memaksa kita berubah. Dalam skala negara, teman pemuas ego ini persis seperti tokoh yang datang membagikan sembako di tengah kubangan banjir: ia membuat kita merasa diperhatikan saat krisis, sambil membiarkan struktur masalah yang menenggelamkan kita tetap utuh.
- Kebenaran yang Dingin Dianggap Musuh (Nasib Kerja Preventif) Sebaliknya, bagaimana kita memperlakukan teman yang berpikir sampai ke akar-akarnya? Teman yang duduk bersama kita, membedah kebodohan manajemen keuangan kita, mengkritik kemalasan kita, dan memaksa kita membangun ulang disiplin hidup dari nol agar tak jatuh ke lubang yang sama? Dalam kultur anak muda yang memuja kenyamanan semu, teman semacam ini sering kali dicap dingin, “kurang berempati”, menghakimi, atau bahkan dijauhi karena merusak suasana hati (mood). Padahal, dialah yang sedang melakukan kerja mitigasi jangka panjang. Sama persis dengan nasib teknokrat atau pemimpin yang menolak populisme bantuan instan demi memperbaiki tata ruang dan ekosistem hulu: kerja kerasnya tidak membelai ego pemilih, terasa kaku, penuh larangan, dan hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian ketika krisis tak jadi meledak.
- Transaksi Kenyamanan Sesaat Di sinilah letak simpul filosofisnya. Ketika di meja kopi saja kita lebih memilih kebohongan yang menghibur ego ketimbang kebenaran yang menyembuhkan akar masalah, mustahil mengharapkan kita menjadi pemilih yang rasional di bilik suara. Kita telah melatih otak kita untuk bertransaksi dengan kenyamanan jangka pendek. Kita menukar masa depan yang sehat dengan pereda nyeri sesaat.
Pada akhirnya, politisi yang gemar memanggul karung beras di depan lensa kamera atau menanam bibit pohon secara seremonial tidak sedang menipu masyarakat. Mereka justru sangat memahami psikologi kita: bangsa yang di level personalnya lebih suka dibelai egonya saat jatuh, ketimbang diajak berpikir keras agar tidak terperosok lagi. Selama kita masih memusuhi teman yang membongkar akar masalah kita dan memuja teman yang sekadar memanjakan keluhan kita, selama itu pula bencana di negeri ini akan terus menjadi panggung sirkus tahunan yang tak pernah kehilangan penonton.













