PADANG, 22 Oktober 2026. Tidak ada gelanggang megah dan tidak ada piala berderet. Di sebuah rumah keluarga di Kelurahan Kuranji, Kota Padang, anak-anak dan remaja berlatih langkah, tanggak, dan kuda-kuda dengan pelan dan berulang. Inilah Perguruan Pencak Silat Kuranji Sejati, tempat silek tradisi aliran Pauh dirawat dari generasi ke generasi. Tim tabangkik.id mengunjungi perguruan ini sebagai bagian dari kerja pengarsipan dan pemetaan pelaku budaya di Sumatera Barat.
Silek yang Mencari Kawan
Pimpinan perguruan, Bapak M. Zen, dan pengurus, Bapak Bustami, menegaskan bahwa Kuranji Sejati memilih jalan silek tradisi, bukan silek prestasi atau silek laga. Pilihan ini bukan berarti pertandingan dianggap tercela. Menurut mereka, silek tradisi lebih mambina ka nan elok, yaitu membina diri menuju yang baik.
Falsafahnya mengutamakan silaturahmi. Ungkapan lama di ranah Minang merangkumnya: lahirnya silek mencari kawan, batinnya silek mencari Tuhan. Silek dipahami sebagai jalan membentuk budi, bukan sekadar cara menjatuhkan lawan.

Bapak Bustami menambahkan bahwa alam takambang jadi guru adalah landasan cara pandang orang Minangkabau terhadap hidup, dan banyak gerak silek berangkat dari pengamatan terhadap alam. Bapak M. Zen menekankan bahwa nilai agama diajarkan berdampingan dengan nilai adat, sehingga prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah tidak hanya dihafal, tetapi dihidupkan di sasaran.
Silek Pauh dan Perjalanan Sejak 1987
Aliran yang diajarkan di Kuranji Sejati adalah Silek Pauh. Menurut penuturan narasumber, silek tradisi berawal dari masa Perang Padri, dan perkumpulan yang dikenal sebagai Pauh 14 kemudian mengembangkan silek Pauh. Sejumlah kajian akademik menyebut Silek Pauh sebagai salah satu aliran termuda dalam silek Minangkabau, yang terbentuk dari peramuan beberapa aliran yang lebih tua dan dikenal lentur, kaya gerak melengkung, serta sarat nilai kebersamaan.
Kuranji Sejati berdiri sejak 1987. Selama bertahun-tahun, sasarannya berpindah-pindah tempat. Sejak 2019, perguruan ini menetap di rumah orangtua Bapak M. Zen. Pada awal masa itu, muridnya hanya segelintir dan sebagian besar anak kemenakan pengurus sendiri. Kini, menurut para pengurus, jumlah murid sudah jauh bertambah.
Sekolah Budaya Kecil
Sasaran Kuranji Sejati tidak hanya mengajarkan silek. Anak-anak juga belajar randai, silek galombang, tari buai-buai, tari piring, tari kain bapilin, dan alat musik tradisional Minangkabau. Silek menjadi pintu masuk, sementara tari, randai, dan musik memperluas pemahaman anak terhadap kebudayaannya.

Sejumlah penelitian di perguruan silek Pauh di Kuranji mencatat bahwa silek tradisi berperan dalam pembentukan karakter murid, menanamkan sikap saling menghargai, dan menjadi media penanaman nilai moral bagi generasi muda.
Harapan para pengurus sejalan dengan temuan itu. Mereka ingin semakin banyak anak muda yang berminat belajar, karena tradisi dan budaya harus diwariskan dan jangan sampai mati.
Peran Tabangkik.id
Tabangkik.id memandang perguruan seperti Kuranji Sejati sebagai perpustakaan hidup. Kerja kami adalah membantu mengarsipkan pengetahuan dan praktik budaya yang dijaga para pelaku, memetakan pelaku budaya di Sumatera Barat, dan membantu pengembangannya ke depan, agar warisan ini tidak hanya bergantung pada ingatan beberapa orang. Kuranji Sejati adalah satu dari banyak sasaran silek di ranah Minang yang bertahan dengan sumber daya terbatas namun semangat besar.













