
PADANG – Sabtu malam (14/3) di Baka Coffee, Padang, suasana tidak sedang baik-baik saja. Diskusi bertajuk “Apa Kabar Gerakan Gen Z Sumbar: Idealisme atau Transaksional?” bukan sekadar ajang kumpul rutin, melainkan sebuah meja otopsi untuk membedah anatomi gerakan mahasiswa Sumatera Barat yang kian hari kian kehilangan taringnya. Pertemuan yang mempertemukan aktivis, jurnalis, hingga elit legislatif ini menyisakan satu pertanyaan fundamental: Apakah mahasiswa hari ini masih menjadi penyambung lidah rakyat, atau sekadar makelar kepentingan?
Hegemoni “Hukum Perut” dan Pelacuran Intelektual
Realitas pahit diungkapkan oleh aktivis HAM, Ridho. Ia menelanjangi fenomena “hukum perut” yang mulai menggeser dominasi “hukum dada dan kepala”. Ketika idealisme digadaikan demi tuntutan ekonomi, maka organisasi hanya menjadi sekadar entry point atau batu loncatan menuju partai politik. Narasi bahwa “idealisme muncul setelah perut terisi” adalah lonceng kematian bagi gerakan moral. Jika mahasiswa sudah mulai berhitung untung-rugi dalam berjuang, maka kita sedang menyaksikan proses pelacuran intelektual secara masif.
Komersialisasi Pendidikan: Pembunuh Laboratorium Pemikiran
Fikri (Korpus BEM Se-Sumbar) memberikan analisis struktural yang menohok. Ia melihat bahwa arah gerakan yang kian pragmatis adalah dampak langsung dari komersialisasi pendidikan. Ketika biaya kuliah melambung tinggi, kampus berhenti menjadi laboratorium pemikiran dan berubah menjadi pabrik tenaga kerja. Mahasiswa dipaksa berpikir transaksional karena sistem pendidikan kita memang didesain untuk itu. Akibatnya, kampus kehilangan ruhnya sebagai kawah candradimuka bagi gagasan-gagasan radikal dan transformatif.
Gerakan Kosong: Minim Riset, Miskin Aksi
Tamparan keras juga datang dari perspektif jurnalis. Rangga menyoroti betapa “dangkalnya” gerakan hari ini. Aksi-aksi jalanan sering kali hanya menjadi parade kebisingan tanpa basis riset yang kuat. Jika mahasiswa bergerak tanpa data, maka mereka sebenarnya sedang melakukan bunuh diri intelektual. Celakanya, istilah “transaksional” pun mulai mengalami pergeseran makna; selama yang ditransaksikan bukan ide dan gagasan, maka gerakan tersebut hanyalah cangkang kosong yang mudah dibeli oleh penguasa.
Polarisasi dan Fragmentasi: Siapa yang Diuntungkan?
Diskusi ini juga membongkar borok internal gerakan yang terfragmentasi ke dalam berbagai “gerbong” kepentingan. Taufikul Hakim (PRIMA DMI) dan Presma Universitas Adzkia mengonfirmasi adanya polarisasi tajam seperti faksi dalam BEM SI yang sering kali berujung pada saling tuding dan pelemahan solidaritas. Ketika mahasiswa sibuk bertikai antar faksi, siapa yang diuntungkan? Tentu saja status quo yang tertawa melihat kekuatan penyeimbang hancur dari dalam.
Kembali ke Garis Rakyat
Akhiz (PHP Unand) memberikan pengingat yang krusial: Keberpihakan. Mahasiswa seharusnya tidak menunggu haknya dirampas baru bergerak. Sejati-jatinya aktivis adalah mereka yang berdiri paling depan ketika hak rakyat jelata diinjak-injak.
Diskusi di Baka Coffee harus menjadi titik balik. Benar kata Hafiz sebagai moderator: solidaritas hanya bisa dibangun di atas keterbukaan. Namun, keterbukaan saja tidak cukup. Kita butuh keberanian untuk membuang ego sektoral, menghancurkan meja-meja transaksi gelap, dan kembali ke jalan riset serta pengabdian yang nyata.
Jika Gen Z Sumatera Barat masih ingin dianggap sebagai pewaris sah semangat perjuangan para pendahulu, maka pilihannya hanya satu: Kembali ke idealisme yang berakar pada data, atau hanyut dan tenggelam dalam sejarah sebagai generasi transaksional yang paling menyedihkan.
Penulis : Aqmal Marzuki (Direktur Diklat dan Pengabdian LKMI HMI Cabang Padang)









