Sabtu, Januari 31, 2026
  • Login
Sumbarzone
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
Sumbarzone
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Olahraga
  • Kolom & Opini
Home Kolom & Opini

Perkembangan Instagram dalam Perspektif Politik-Ekonomi Media

Afdal Putra (Masiswa Studi Humanitas, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padangpanjang)

Redaksi by Redaksi
13/12/2025
in Kolom & Opini
A A
0
Afdal Putra

Afdal Putra

FacebookTwitter

DALAM ERA digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat global. Salah satu platform media sosial yang mengalami pertumbuhan pesat dan memiliki pengaruh besar adalah Instagram. Diluncurkan pada 2010, Instagram awalnya dirancang sebagai aplikasi berbagi foto dengan fitur sederhana.

Namun, seiring waktu, Instagram berkembang menjadi salah satu ekosistem media digital yang kompleks, melibatkan berbagai aktor ekonomi, teknologi, dan budaya. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari konteks politik dan ekonomi yang membentuk struktur dan praktik media digital secara luas.

Pendekatan Teori Politik-Ekonomi Media sangat relevan untuk memahami perkembangan Instagram karena teori ini menyoroti bagaimana kepemilikan media, dominasi modal, dan model bisnis kapitalisme platform memengaruhi produksi, distribusi, dan konsumsi konten di media digital (Mosco, 1996; Srnicek, 2017).

Dengan menggunakan lensa ini, Instagram tidak hanya dipandang sebagai teknologi atau produk inovasi, tetapi sebagai bagian dari sistem kapital yang mengatur bagaimana informasi dan pengalaman digital diproduksi dan dikendalikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana struktur ekonomi dan politik di balik Instagram membentuk pola komunikasi dan budaya digital, serta dampaknya terhadap akses dan partisipasi pengguna di platform tersebut.

Perkembangan media sosial seperti Instagram tidak bisa dilepaskan dari transformasi ekonomi digital yang lebih luas, di mana data dan interaksi sosial menjadi komoditas bernilai tinggi. Kondisi ini memunculkan fenomena kapitalisme platform yang menggabungkan teknologi, ekonomi, dan budaya dalam satu ekosistem yang saling terkait.

Oleh karena itu, memahami Instagram melalui perspektif politik-ekonomi media memungkinkan kita menelusuri bagaimana kepentingan ekonomi korporasi besar membentuk tidak hanya teknologi dan model bisnis, tetapi juga praktik sosial dan budaya pengguna. Pendekatan ini juga membuka ruang refleksi kritis terhadap konsekuensi sosial dari dominasi modal dalam ranah digital.

  1. Landasan Teori Politik-Ekonomi Media

Teori Politik-Ekonomi Media berakar pada pemikiran Karl Marx mengenai kapital, relasi produksi, dan distribusi kekuasaan dalam masyarakat industri. Dalam perkembangannya, teori ini dikembangkan lebih lanjut oleh para pemikir seperti Vincent Mosco dan Robert McChesney untuk menganalisis media modern, termasuk media digital. Mosco (1996) menegaskan bahwa ekonomi politik media adalah studi tentang relasi sosial, khususnya relasi kekuasaan, yang memengaruhi produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya komunikasi. Dengan kata lain, media tidak pernah netral; ia selalu berada dalam struktur kepemilikan dan kekuasaan modal yang menentukan arah dan isi pesan yang diproduksi serta didistribusikan ke publik .

Dalam konteks media digital, Srnicek (2017) memperkenalkan konsep kapitalisme platform, yaitu situasi di mana perusahaan teknologi besar memonopoli pasar melalui pengumpulan data pengguna secara masif dan komodifikasi data tersebut menjadi sumber utama keuntungan.

Instagram, sebagai bagian dari ekosistem Meta Platforms, beroperasi dalam kerangka ini. Platform ini tidak hanya menyediakan ruang interaksi sosial, tetapi juga mengubah aktivitas pengguna menjadi data yang dapat diperdagangkan dan dimonetisasi melalui model bisnis iklan yang sangat tertarget. Proses ini dikenal sebagai komodifikasi, di mana konten, audiens, bahkan interaksi sosial diubah menjadi barang dagangan yang bernilai ekonomi

Lebih jauh, teori ini juga menyoroti bagaimana struktur kepemilikan dan logika pasar membentuk pengalaman digital pengguna. Kontrol atas data dan algoritma penayangan konten memungkinkan korporasi seperti Meta untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus mengarahkan pola konsumsi informasi dan perilaku pengguna di Instagram.

Dengan demikian, pengalaman bermedia sosial di Instagram tidak lepas dari relasi kekuasaan ekonomi yang bekerja secara sistemik, di mana kepentingan modal dan struktur pasar menjadi penentu utama dalam produksi dan distribusi pesan digital. Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa perkembangan teknologi dan media sosial seperti Instagram bukan sekadar hasil inovasi teknis, melainkan juga produk dari dinamika ekonomi-politik yang kompleks.

  1. Kepemilikan dan Konsolidasi Korporasi

Salah satu karakteristik utama dari ekosistem media digital kontemporer adalah meningkatnya proses konsolidasi korporasi, di mana sejumlah kecil perusahaan besar menguasai sebagian besar platform utama yang digunakan masyarakat. Akuisisi Instagram oleh Facebook pada tahun 2012, yang kini bertransformasi menjadi Meta Platforms, adalah contoh nyata dari tren ini.

Akuisisi tersebut tidak hanya memperbesar skala bisnis Meta, tetapi juga memperluas kendali mereka atas data, teknologi, serta perilaku digital miliaran pengguna di seluruh dunia. Melalui integrasi lintas-platform, Meta mampu memanfaatkan sinergi data antara Instagram, Facebook, WhatsApp, dan produk digital lainnya untuk memperkuat posisi bisnis mereka secara global.

Dominasi Meta sebagai pemilik Instagram membawa konsekuensi penting dalam konteks kebebasan dan keragaman media. Dengan menguasai infrastruktur digital inti, Meta memiliki kapasitas untuk menentukan standar, regulasi internal, dan algoritma yang mengatur distribusi serta visibilitas informasi di Instagram.

Hal ini berpotensi membatasi munculnya suara-suara alternatif, membentuk agenda informasi sesuai dengan kepentingan bisnis korporasi, dan mengurangi ruang bagi narasi independen atau komunitas minoritas. Sebagaimana diuraikan oleh Mosco (1996), pola kepemilikan terpusat semacam ini memperkuat logika pasar dan akumulasi kapital, yang pada akhirnya dapat mengancam prinsip pluralisme dan demokrasi dalam ranah digital.

Lebih jauh, konsolidasi korporasi juga berdampak pada dinamika persaingan dan inovasi di industri media sosial. Kehadiran aktor dominan seperti Meta dapat menghambat masuknya pemain baru, memperlebar jurang ketimpangan sumber daya, dan menciptakan hambatan struktural bagi pengembangan alternatif yang lebih inklusif serta berorientasi pada kepentingan publik.

Dengan demikian, analisis kepemilikan dan konsolidasi korporasi tidak hanya penting untuk memahami struktur ekonomi Instagram, tetapi juga untuk menyoroti dinamika kekuasaan yang membentuk pengalaman digital pengguna dan masa depan budaya media sosial.

  1. Model Bisnis Kapitalisme Platform: Iklan dan Komodifikasi Data

Instagram telah bertransformasi menjadi salah satu platform utama dalam ekosistem bisnis digital, di mana model bisnisnya sangat bergantung pada pendapatan iklan dan pengumpulan data pengguna secara masif. Dalam kerangka kapitalisme platform, data pribadi pengguna mulai dari preferensi, perilaku, hingga Lokasi dikumpulkan, dianalisis, dan diolah untuk menghasilkan segmentasi pasar yang sangat spesifik.

Proses ini memungkinkan Instagram menawarkan layanan iklan yang sangat tertarget, sehingga pengiklan dapat menjangkau audiens yang paling relevan dengan produk atau jasa mereka. Dengan demikian, Instagram tidak hanya menjadi ruang interaksi sosial, tetapi juga mesin pemasaran digital yang efisien dan efektif bagi pelaku bisnis dari berbagai skala.

Namun, praktik komodifikasi data ini menimbulkan sejumlah tantangan etis dan sosial. Pengguna sering kali tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana data mereka dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi platform. Isu privasi dan pengawasan digital menjadi semakin penting, terutama ketika kontrol atas data lebih banyak berada di tangan korporasi daripada pengguna sendiri.

Selain itu, algoritma yang mengatur penyajian konten di Instagram sangat dipengaruhi oleh logika pasar dan kepentingan bisnis, sehingga dapat memperkuat bias, mengarahkan perhatian pada konten komersial, dan menciptakan ketimpangan dalam distribusi informasi. Lebih jauh, model bisnis ini juga mendorong munculnya fenomena User-Generated Content (UGC), di mana pengguna didorong untuk secara aktif memproduksi dan membagikan konten yang pada akhirnya juga dimonetisasi oleh platform.

Dengan demikian, setiap aktivitas pengguna di Instagram secara tidak langsung berkontribusi pada akumulasi kapital bagi korporasi, mempertegas posisi Instagram sebagai instrumen kapitalisme platform yang mengintegrasikan interaksi sosial dan ekonomi dalam satu ekosistem digital.

  1. Privatisasi Infrastruktur Digital dan Ketimpangan Akses

Privatisasi infrastruktur digital oleh perusahaan besar seperti Meta Platforms telah menciptakan lanskap media sosial yang semakin terpusat dan eksklusif. Meskipun Instagram tampak sebagai ruang terbuka dan inklusif, kenyataannya akses dan visibilitas konten sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan teknologi yang tidak merata. Algoritma Instagram cenderung memprioritaskan konten dari akun-akun yang memiliki modal ekonomi lebih besar atau mampu membayar untuk promosi, sementara konten dari pengguna biasa seringkali tenggelam di tengah arus informasi.

Ketimpangan ini tidak hanya terjadi pada level ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan akses teknologi, seperti perangkat yang digunakan, kualitas jaringan internet, dan kemampuan digital pengguna. Bagi pelaku bisnis kecil atau individu dengan sumber daya terbatas, biaya untuk beriklan atau meningkatkan visibilitas di Instagram bisa menjadi hambatan signifikan.

Akibatnya, jurang antara aktor ekonomi dominan dan pengguna biasa semakin melebar, yang berdampak pada ketimpangan kesempatan untuk berpartisipasi, mempromosikan produk, atau menyuarakan pendapat di ruang digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial seperti Instagram menawarkan peluang baru dalam pemasaran dan komunikasi, realitasnya tetap dipengaruhi oleh struktur ekonomi yang tidak seimbang. Dengan demikian, penting untuk mengkritisi narasi inklusivitas digital dan memahami bahwa akses serta partisipasi di Instagram sangat dipengaruhi oleh dinamika privatisasi dan kapitalisasi infrastruktur digital.

  1. Implikasi Sosial-Budaya

Selain aspek ekonomi, perkembangan Instagram juga membawa dampak signifikan terhadap budaya digital dan sosial masyarakat. Platform ini telah menjadi ruang utama bagi reproduksi ideologi konsumsi dan gaya hidup kapitalis, di mana narasi visual tentang estetika, status sosial, dan konsumsi produk menjadi bagian penting dari identitas digital pengguna.

Influencer, brand, dan pelaku bisnis memanfaatkan Instagram untuk membangun citra, mempromosikan produk, dan memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat secara luas. Dominasi konten komersial dan promosi gaya hidup di Instagram berpotensi memperkuat budaya pasar yang homogen, di mana nilai-nilai konsumtif dan estetika visual menjadi standar utama dalam interaksi sosial.

Hal ini sejalan dengan pandangan McChesney (1999) bahwa media kaya tanpa demokrasi yang kuat cenderung memperkuat dominasi budaya pasar dan mengurangi ruang bagi keragaman budaya serta narasi alternatif. Selain itu, algoritma yang mengatur distribusi konten juga dapat memperkuat bias dan membatasi eksposur terhadap perspektif yang berbeda, sehingga mempersempit ruang diskusi publik yang sehat.

Dengan demikian, Instagram tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai arena perjuangan ekonomi dan budaya yang dibentuk oleh kepentingan modal. Kondisi ini menuntut kesadaran kritis dari pengguna dan masyarakat luas terhadap bagaimana budaya digital dibentuk, dikonsumsi, dan dipengaruhi oleh logika kapitalisme platform yang mendasari operasional Instagram. (*)

ShareTweet
Previous Post

Media dan Teknologi dalam Pendidikan Menengah Provinsi Sumatera Barat: Menjaga Esensi Humanistik di Tengah Transformasi Digital

Next Post

Kesenian Tradisional Rabab Minangkabau Merambah Ke Media Digital

Redaksi

Redaksi

Next Post
Ricky Hardianto

Kesenian Tradisional Rabab Minangkabau Merambah Ke Media Digital

Bupati Padang Pariaman

Pemerintah Pusat–Daerah Bersama TNI–Polri Mulai Pembangunan Huntara di Kayu Tanam

Kegiatan Psychological First Aid, Gerakan Pendampingan Psikososial Kolaborasi Antar Komunitas (Foto: Muhammad N. Chaniago/Sumbar Zone)

Kolaborasi Komunitas Hadirkan Ruang Aman Psikososial untuk Anak Penyintas Bencana di Padang

Dokumentasi tim relawan HMI Komisariat IPMIPA UNP

HMI Komisariat IPMIPA UNP dan IZI Sumbar Salurkan Bantuan Ke Tanjung Sani Maninjau

Dar El Iman Peduli Lanjutkan Pembersihan dan Operasikan Dapur Umum di Kampuang Chaniago

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
DPRD Kota Pariaman bersama Forkopimda dan pimpinan OPD mengikuti rapat paripurna penetapan Perda APBD-P TA 2025. (Dok: Pemko Pariaman)

DPRD dan Pemko Pariaman Tetapkan Perda APBD-P TA 2025

20 Agustus 2025
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

4 Mei 2025
Rangkayo Rajo Sampono, Pucuk Adat Nagari Katapiang saat memberi sambutan pada acara Pekan Budaya Nagari Katapiang Baghalek Gadang

Pemekaran Padang Pariaman Selatan Kian Dekat, Panitia Tunggu SK untuk Deklarasi

21 Agustus 2025
Kegiatan Psychological First Aid, Gerakan Pendampingan Psikososial Kolaborasi Antar Komunitas (Foto: Muhammad N. Chaniago/Sumbar Zone)

Kolaborasi Komunitas Hadirkan Ruang Aman Psikososial untuk Anak Penyintas Bencana di Padang

14 Desember 2025
Bakso Lava Viral

Bakso Lava Viral di Kota Padang yang Mengguncang Lidah: Teras Kelapa

Air Terjun Nyarai

Keindahan Air Terjun Nyarai Gamaran: Surga Tersembunyi di Sumatera Barat

Danau Talang

Danau Talang: Destinasi Wisata Alam Indah di Sumatera Barat

Di bawah langit jingga, Istano Basa Pagaruyung bercerita tentang sejarah, kemegahan, dan keabadian budaya. (Foto: @rudyci2016)

Fakta Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
Batang Anai FC kontra PSPP dalam laga Liga 4 Sumbar 2025/2026 di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Kamis (22/1/2026). (Foto: Istimewa)

Batang Anai FC Takluk 0-5 dari PSPP di Laga Perdana Liga 4 Sumbar

23 Januari 2026
Tim Basarnas saat mengangkut jenazah nelayan bernama Dedy Fernando asal Nagari Sunua Barat, yang ditemukan Rabu sore (21/1). (Dok Basarnas)

Nelayan Sunur Barat Ditemukan Meninggal di Muaro Sunua, Operasi SAR Dihentikan

23 Januari 2026

Pemerintah Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan, Enam Beroperasi di Sumatera Barat

21 Januari 2026

Berita Terkait

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
Batang Anai FC kontra PSPP dalam laga Liga 4 Sumbar 2025/2026 di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Kamis (22/1/2026). (Foto: Istimewa)

Batang Anai FC Takluk 0-5 dari PSPP di Laga Perdana Liga 4 Sumbar

23 Januari 2026
Tim Basarnas saat mengangkut jenazah nelayan bernama Dedy Fernando asal Nagari Sunua Barat, yang ditemukan Rabu sore (21/1). (Dok Basarnas)

Nelayan Sunur Barat Ditemukan Meninggal di Muaro Sunua, Operasi SAR Dihentikan

23 Januari 2026

Pemerintah Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan, Enam Beroperasi di Sumatera Barat

21 Januari 2026
  • Home
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Hubungi Kami: +62 877-3827-4008

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In