Kamis, April 2, 2026
  • Login
Sumbarzone
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
Sumbarzone
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Olahraga
  • Kolom & Opini
Home Kolom & Opini

Matinya Demokrasi di BEM FIS UNP dan Hilangnya Independensi BPM

Sebuah Catatan Kritis Dari Kampus Merah

Aqmal M. Zuki by Aqmal M. Zuki
01/04/2026
in Kolom & Opini
A A
0
FacebookTwitter
ilustrasi
ilustrasi

Memasuki bulan Maret 2026, lanskap demokrasi di tubuh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang (BEM FIS UNP) tampak semakin suram. Apa yang dahulu dibanggakan sebagai ruang dialektika, partisipasi, dan kontrol kekuasaan mahasiswa, kini perlahan kehilangan denyut nadi. Demokrasi yang semestinya menjadi ruh organisasi kemahasiswaan justru terlihat mati secara perlahan, bahkan mungkin telah lama terkubur tanpa disadari.
Puncak dari kemunduran ini dapat ditelusuri sejak terbentuknya kepengurusan BEM pada 30 Juni 2025 melalui Musyawarah Luar Biasa (Mubeslub). Secara normatif, forum tersebut memang sah sebagai mekanisme organisasi. Namun secara substansial, banyak pertanyaan yang tidak pernah benar-benar dijawab: sejauh mana legitimasi itu lahir dari partisipasi luas mahasiswa? Apakah forum tersebut benar-benar mencerminkan kehendak kolektif, atau justru hanya menjadi alat segelintir elit untuk mempertahankan kekuasaan?
Demokrasi bukan sekadar prosedur, tetapi juga soal nilai. Ketika musyawarah hanya menjadi formalitas tanpa keterlibatan aktif mahasiswa, maka di situlah awal dari kematian demokrasi itu sendiri. BEM yang terbentuk dari proses semacam ini berpotensi kehilangan legitimasi moralnya. Ia mungkin sah secara administratif, tetapi rapuh secara etis.
Lebih ironis lagi adalah kondisi Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) FIS yang seharusnya menjadi lembaga pengawas. Dalam sistem organisasi kemahasiswaan, BPM memegang peran vital sebagai penyeimbang kekuasaan eksekutif. Ia adalah penjaga marwah demokrasi, yang memastikan bahwa BEM tidak berjalan di luar koridor konstitusi organisasi. Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya: independensi BPM tampak memudar, bahkan bisa dikatakan hilang.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah BPM masih berdiri sebagai lembaga independen, atau telah menjadi bayang-bayang dari BEM itu sendiri? Ketika fungsi kontrol tidak lagi berjalan, maka kekuasaan akan cenderung absolut. Dan seperti yang sering diingatkan dalam teori politik klasik, kekuasaan yang tidak diawasi akan melahirkan penyimpangan.
Ada indikasi kuat bahwa relasi antara BEM dan BPM tidak lagi sehat. Alih-alih menjadi mitra kritis, BPM justru terlihat pasif, bahkan cenderung diam terhadap berbagai dinamika internal BEM. Dalam banyak kasus, ketidakaktifan ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bisa jadi hasil dari kompromi politik yang tidak sehat. Jika benar demikian, maka independensi BPM bukan hanya hilang, tetapi telah “dikorbankan”.
Situasi ini memperlihatkan krisis yang lebih dalam: krisis kesadaran kolektif mahasiswa. Kampus yang selama ini dikenal sebagai ruang kritis justru menunjukkan gejala apatisme. Di mana suara mahasiswa ketika demokrasi organisasi mereka tergerus? Mengapa tidak ada gelombang kritik yang masif? Apakah mahasiswa sudah kehilangan keberanian, atau justru kehilangan kepedulian?
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk normalisasi terhadap ketidakberesan. Ketika praktik yang tidak demokratis dibiarkan berlangsung tanpa perlawanan, maka lama-kelamaan ia akan dianggap sebagai hal yang biasa. Inilah bahaya terbesar: bukan hanya matinya demokrasi, tetapi hilangnya kesadaran bahwa demokrasi itu sedang mati.
Namun, menyalahkan satu pihak saja tidak akan menyelesaikan persoalan. Apakah BEM yang terlalu dominan sehingga “memainkan” BPM? Ataukah BPM sendiri yang memang telah kehilangan integritasnya? Jawabannya mungkin tidak sesederhana hitam dan putih. Bisa jadi, keduanya sama-sama berkontribusi dalam menciptakan kondisi ini.
BEM mungkin tergoda untuk memperluas kekuasaan tanpa kontrol, sementara BPM mungkin memilih jalan aman dengan tidak menjalankan fungsi pengawasannya secara maksimal. Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, yang menjadi korban adalah demokrasi itu sendiri.
Lebih jauh, kondisi ini mencerminkan kegagalan dalam membangun budaya organisasi yang sehat. Demokrasi tidak akan hidup hanya dengan aturan tertulis; ia membutuhkan komitmen moral dari para pelakunya. Tanpa itu, konstitusi organisasi hanya akan menjadi dokumen mati yang tidak memiliki daya ikat.
Kampus, khususnya fakultas ilmu sosial, seharusnya menjadi laboratorium demokrasi. Di sinilah mahasiswa belajar tentang nilai-nilai keadilan, partisipasi, dan akuntabilitas. Jika di ruang ini saja demokrasi gagal ditegakkan, maka kita patut mempertanyakan: apa yang sebenarnya sedang dipelajari?
Tulisan ini bukan sekadar kritik, tetapi juga ajakan refleksi. Demokrasi di BEM FIS mungkin sedang mati, tetapi bukan berarti tidak bisa dihidupkan kembali. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui masalah, serta kemauan kolektif untuk memperbaikinya.
Mahasiswa harus kembali mengambil peran sebagai subjek, bukan objek. BPM harus mengembalikan independensinya sebagai lembaga pengawas, bukan sekadar pelengkap struktur. Dan BEM harus menyadari bahwa kekuasaan tanpa legitimasi dan kontrol hanya akan membawa kehancuran.
Pada akhirnya, demokrasi bukan tentang siapa yang berkuasa, tetapi tentang bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Jika nilai-nilai demokrasi terus diabaikan, maka bukan hanya organisasi yang akan runtuh, tetapi juga kepercayaan mahasiswa terhadap sistem itu sendiri.
Dan ketika kepercayaan itu hilang, maka yang tersisa hanyalah kehampaan sebuah organisasi tanpa jiwa, berjalan tanpa arah, dan kehilangan makna.

 

Farel Musyafa
Farel Musyafa

Penulis: Fharel Musyaffa Adina (Kabid PSDM HMD SEJARAH 2025)

Tags: demokrasikampusMahasiswa
ShareTweet
Previous Post

Otopsi Gerakan Gen Z Sumbar: Matinya Idealisme di Meja Transaksi?

Aqmal M. Zuki

Aqmal M. Zuki

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Poster Diskusi Kader : Talkshow Nasional

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
DPRD Kota Pariaman bersama Forkopimda dan pimpinan OPD mengikuti rapat paripurna penetapan Perda APBD-P TA 2025. (Dok: Pemko Pariaman)

DPRD dan Pemko Pariaman Tetapkan Perda APBD-P TA 2025

20 Agustus 2025
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

4 Mei 2025
Rangkayo Rajo Sampono, Pucuk Adat Nagari Katapiang saat memberi sambutan pada acara Pekan Budaya Nagari Katapiang Baghalek Gadang

Pemekaran Padang Pariaman Selatan Kian Dekat, Panitia Tunggu SK untuk Deklarasi

21 Agustus 2025
Bakso Lava Viral

Bakso Lava Viral di Kota Padang yang Mengguncang Lidah: Teras Kelapa

Air Terjun Nyarai

Keindahan Air Terjun Nyarai Gamaran: Surga Tersembunyi di Sumatera Barat

Danau Talang

Danau Talang: Destinasi Wisata Alam Indah di Sumatera Barat

Di bawah langit jingga, Istano Basa Pagaruyung bercerita tentang sejarah, kemegahan, dan keabadian budaya. (Foto: @rudyci2016)

Fakta Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Matinya Demokrasi di BEM FIS UNP dan Hilangnya Independensi BPM

1 April 2026

Otopsi Gerakan Gen Z Sumbar: Matinya Idealisme di Meja Transaksi?

17 Maret 2026

Kolaborasi Strategis LKMI, Wujudkan Kebermanfaatan Konkret

17 Maret 2026

Catatan Demokrasi Kampus: Lampu Merah KM UNP

9 Maret 2026

Berita Terkait

Matinya Demokrasi di BEM FIS UNP dan Hilangnya Independensi BPM

1 April 2026

Otopsi Gerakan Gen Z Sumbar: Matinya Idealisme di Meja Transaksi?

17 Maret 2026

Kolaborasi Strategis LKMI, Wujudkan Kebermanfaatan Konkret

17 Maret 2026

Catatan Demokrasi Kampus: Lampu Merah KM UNP

9 Maret 2026
  • Home
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Hubungi Kami: +62 877-3827-4008

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In