Sabtu, Januari 31, 2026
  • Login
Sumbarzone
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
Sumbarzone
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Olahraga
  • Kolom & Opini
Home Sosial Budaya

Kesultanan Jambi berasal dari Kerajaan Minangkabau

Redaksi by Redaksi
04/05/2025
in Sosial Budaya
A A
0
Kediaman Sultan Ahmad Nazaruddin di Dusun Tengah (sekarang di desa Rambutan Masam, Batanghari), sekitar tahun 1877-1879 (Sumber: Wikipedia)

Kediaman Sultan Ahmad Nazaruddin di Dusun Tengah (sekarang di desa Rambutan Masam, Batanghari), sekitar tahun 1877-1879 (Sumber: Wikipedia)

FacebookTwitter

Sejarah Indonesia dipenuhi dengan jejak-jejak kerajaan besar yang membentuk identitas kultural dan politik masyarakatnya. Salah satu hubungan sejarah yang menarik untuk ditelusuri adalah kaitan antara Kerajaan Minangkabau dan Kesultanan Jambi.

Meskipun keduanya kini berada dalam dua provinsi berbeda, yakni Sumatera Barat dan Jambi, hubungan historis di antara keduanya begitu erat dan saling memengaruhi. Artikel ini membahas bagaimana Kerajaan Minangkabau menjadi asal-usul dari Kesultanan Jambi dan pengaruh budaya yang dibawanya hingga membentuk struktur sosial-politik Jambi di masa lampau.

1. Minangkabau: Negeri Tua Penuh Warisan Sejarah

Wilayah Minangkabau diyakini telah dihuni sejak zaman batu muda atau Neolitikum, sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Bukti sejarah seperti menhir dan peninggalan arkeologis lainnya banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa wilayah ini telah memiliki struktur sosial dan budaya yang cukup maju sejak masa prasejarah.

Dalam catatan sejarah dan tambo Minangkabau, tokoh legendaris bernama Sang Sapurba dikenal sebagai leluhur utama. Ia dikisahkan turun dari Bukit Siguntang Mahameru dan kemudian menjadi raja pertama Minangkabau. Dari keturunan Sang Sapurba inilah lahir banyak raja-raja Melayu di Sumatera, termasuk yang kelak memimpin Palembang, Jambi, hingga Aceh.

Kerajaan Minangkabau berkembang menjadi pusat budaya dan politik yang cukup dominan di wilayah Sumatera bagian tengah. Dalam sistem adat dan kekerabatan yang kuat, Minangkabau memiliki dua sistem pemerintahan adat: Koto Piliang (aristokratis) dan Bodi Caniago (demokratis), yang kelak menjadi warisan penting dalam struktur budaya Melayu di Jambi.

2. Pagaruyung dan Perluasan Pengaruh ke Jambi

Kerajaan Pagaruyung merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau yang memiliki pengaruh besar terhadap wilayah sekitarnya, termasuk Jambi. Dalam tambo Minangkabau, diceritakan bahwa Datuk Ketumanggungan, salah satu tokoh adat Minangkabau, mengamanatkan kepada keturunannya untuk mendirikan kerajaan-kerajaan di luar Pagaruyung, termasuk di Jambi, Palembang, dan Siak.

Amanat ini bukan hanya bertujuan politik, tetapi juga menjadi strategi diplomasi dan ekspansi budaya. Dalam tambo disebutkan dengan jelas: “Dirikan kerajaan di tanah Jambi akan maisi emas manah kepada kita,” yang menunjukkan bahwa Jambi dianggap penting karena kekayaan sumber daya alamnya, terutama emas.

Proses ini memperlihatkan bahwa pendirian Kesultanan Jambi bukanlah sesuatu yang terlepas dari pengaruh Minangkabau. Bahkan banyak raja dan bangsawan di Jambi yang masih mengklaim garis keturunan dari Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung, yang secara tidak langsung memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.

3. Putri Selaro Pinang Masak: Penghubung Pagaruyung dan Jambi

Salah satu tokoh kunci dalam sejarah berdirinya Kesultanan Jambi adalah Putri Selaro Pinang Masak. Ia dikenal dalam sejarah Jambi sebagai sosok sentral yang membawa pengaruh Minangkabau ke wilayah pesisir timur Sumatera. Putri ini merupakan anak dari Raja Pagaruyung, yakni Ananggawarman, yang memerintah sekitar abad ke-14.

Putri Selaro Pinang Masak menikah dengan Datuk Paduko Berhalo, seorang bangsawan asing yang dikisahkan berasal dari Istanbul. Dari pernikahan mereka, lahirlah generasi baru yang menjadi cikal bakal para pemimpin adat dan bangsawan di Jambi. Anak-anak mereka kemudian dikenal dengan gelar Orang Kayo Pingai, Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Kedataran, dan Orang Kayo Gemuk, yang memiliki peran penting dalam sistem kemasyarakatan Jambi.

Selain itu, saudari Putri Selaro Pinang Masak, yaitu Putri Panjang Rambut, juga menetap di Jambi dan ikut berperan dalam pembentukan struktur adat setempat. Keturunan dari dua perempuan Pagaruyung ini menjadi fondasi dari apa yang kemudian dikenal sebagai bangsa XII—kelompok bangsawan adat yang memimpin Jambi dalam masa-masa awal berdirinya kesultanan.

Cerita Rakyat : Putri Pinang Masak (https://icnuka.wordpress.com/2013/05/07/putri-pinang-masak/)

4. Legenda Tun Telanai dan Transisi Kekuasaan

Cerita rakyat Jambi menyimpan kisah menarik tentang Tun Telanai, seorang raja yang jatuh cinta kepada Putri Selaro Pinang Masak. Dalam legenda tersebut, Tun Telanai mencoba meminang sang putri, namun diberikan syarat yang sulit: membangun istana megah dalam satu malam sebelum ayam berkokok. Meski hampir berhasil, siasat Putri yang membawa obor membuat ayam berkokok lebih cepat, menyebabkan permintaan itu gagal dipenuhi.

Meskipun pernikahan itu batal, Tun Telanai tetap mengakui Putri Selaro Pinang Masak sebagai ahli waris kekuasaannya. Hal ini menjadi titik awal transisi kekuasaan dari tokoh lokal Jambi kepada keturunan Minangkabau. Legenda ini diyakini sebagai simbol masuknya pengaruh baru ke wilayah Jambi dengan cara yang diplomatis dan elegan.

Dalam perspektif sejarah, kisah ini menunjukkan cara-cara halus yang digunakan Minangkabau untuk memperluas pengaruhnya. Bukan dengan penaklukan militer, melainkan melalui pernikahan politik, diplomasi adat, dan penghormatan terhadap tatanan lokal yang sudah ada sebelumnya.

5. Struktur Adat Jambi dan Jejak Minangkabau

Salah satu bukti kuat dari pengaruh Minangkabau terhadap Jambi adalah kesamaan dalam sistem adat. Lembaga Adat Melayu Jambi menyebut bahwa dua tokoh penting pembentuk adat Jambi adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketemanggungan. Keduanya adalah figur sentral dalam struktur adat Minangkabau, masing-masing mewakili sistem Bodi Caniago dan Koto Piliang.

Sistem kekerabatan matrilineal, pembagian kaum, peran ninik mamak, dan musyawarah adat dalam masyarakat Jambi memiliki banyak kemiripan dengan yang diterapkan di Minangkabau. Bahkan beberapa istilah adat dan gelar kehormatan yang digunakan di Jambi juga masih mempertahankan unsur bahasa dan struktur Minang.

Kesamaan ini menunjukkan bahwa pengaruh Minangkabau tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kultural yang sangat mendalam. Jejak ini masih terlihat hingga kini dalam bentuk upacara adat, pembentukan lembaga adat, dan relasi sosial dalam masyarakat Jambi.

6. Melacak Akar Sejarah Lokal yang Terkoneksi

Hubungan antara Minangkabau dan Jambi adalah cerminan dari jalinan sejarah yang erat antar wilayah di Nusantara. Dari tambo, legenda, hingga catatan kolonial Belanda, semuanya memperkuat bahwa Kesultanan Jambi memiliki akar yang kuat dari Kerajaan Pagaruyung. Proses ini terjadi melalui pernikahan, migrasi, serta penyebaran adat dan struktur pemerintahan.

Pemahaman atas asal-usul Kesultanan Jambi dari Kerajaan Minangkabau juga mengajarkan kita tentang pentingnya pendekatan budaya dalam penyebaran pengaruh kekuasaan. Pendekatan ini berhasil membangun struktur sosial yang solid dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal.

Melestarikan narasi sejarah ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga bagian dari penguatan identitas dan kebanggaan daerah. Koneksi antara Minangkabau dan Jambi sepatutnya menjadi inspirasi dalam membangun kembali semangat persatuan, menghargai warisan budaya, dan memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

Sumber:

Rahim, Arif. “Kerajaan Minangkabau Sebagai Asal-usul Kesultanan Jambi.” Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi 21.1 (2021): 399-412.

ShareTweet
Previous Post

Pesona Pantai Tiku di Agam, Sumatera Barat

Next Post

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

Redaksi

Redaksi

Next Post
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

Rumah Gadang (Karya Fauzan/Pixabay)

Inilah Filosofi Mengapa Orang Minang Merantau?

Kredit Foto: Fajar.co.id

Setya Novanto Bebas Bersyarat, KPK Ingatkan Bahaya Korupsi

Gempa M 4,5 Guncang Pariaman, Terasa Hingga Padang dan Padang Panjang

Ilustrasi

ASN Limapuluh Kota Digrebek Istri Saat Bersama Wanita Lain di Hotel Pekanbaru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
DPRD Kota Pariaman bersama Forkopimda dan pimpinan OPD mengikuti rapat paripurna penetapan Perda APBD-P TA 2025. (Dok: Pemko Pariaman)

DPRD dan Pemko Pariaman Tetapkan Perda APBD-P TA 2025

20 Agustus 2025
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

4 Mei 2025
Rangkayo Rajo Sampono, Pucuk Adat Nagari Katapiang saat memberi sambutan pada acara Pekan Budaya Nagari Katapiang Baghalek Gadang

Pemekaran Padang Pariaman Selatan Kian Dekat, Panitia Tunggu SK untuk Deklarasi

21 Agustus 2025
Kegiatan Psychological First Aid, Gerakan Pendampingan Psikososial Kolaborasi Antar Komunitas (Foto: Muhammad N. Chaniago/Sumbar Zone)

Kolaborasi Komunitas Hadirkan Ruang Aman Psikososial untuk Anak Penyintas Bencana di Padang

14 Desember 2025
Bakso Lava Viral

Bakso Lava Viral di Kota Padang yang Mengguncang Lidah: Teras Kelapa

Air Terjun Nyarai

Keindahan Air Terjun Nyarai Gamaran: Surga Tersembunyi di Sumatera Barat

Danau Talang

Danau Talang: Destinasi Wisata Alam Indah di Sumatera Barat

Di bawah langit jingga, Istano Basa Pagaruyung bercerita tentang sejarah, kemegahan, dan keabadian budaya. (Foto: @rudyci2016)

Fakta Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
Batang Anai FC kontra PSPP dalam laga Liga 4 Sumbar 2025/2026 di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Kamis (22/1/2026). (Foto: Istimewa)

Batang Anai FC Takluk 0-5 dari PSPP di Laga Perdana Liga 4 Sumbar

23 Januari 2026
Tim Basarnas saat mengangkut jenazah nelayan bernama Dedy Fernando asal Nagari Sunua Barat, yang ditemukan Rabu sore (21/1). (Dok Basarnas)

Nelayan Sunur Barat Ditemukan Meninggal di Muaro Sunua, Operasi SAR Dihentikan

23 Januari 2026

Pemerintah Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan, Enam Beroperasi di Sumatera Barat

21 Januari 2026

Berita Terkait

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
Batang Anai FC kontra PSPP dalam laga Liga 4 Sumbar 2025/2026 di Stadion Haji Agus Salim, Padang, Kamis (22/1/2026). (Foto: Istimewa)

Batang Anai FC Takluk 0-5 dari PSPP di Laga Perdana Liga 4 Sumbar

23 Januari 2026
Tim Basarnas saat mengangkut jenazah nelayan bernama Dedy Fernando asal Nagari Sunua Barat, yang ditemukan Rabu sore (21/1). (Dok Basarnas)

Nelayan Sunur Barat Ditemukan Meninggal di Muaro Sunua, Operasi SAR Dihentikan

23 Januari 2026

Pemerintah Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Hutan, Enam Beroperasi di Sumatera Barat

21 Januari 2026
  • Home
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Hubungi Kami: +62 877-3827-4008

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In