Sejarah Indonesia dipenuhi dengan jejak-jejak kerajaan besar yang membentuk identitas kultural dan politik masyarakatnya. Salah satu hubungan sejarah yang menarik untuk ditelusuri adalah kaitan antara Kerajaan Minangkabau dan Kesultanan Jambi.
Meskipun keduanya kini berada dalam dua provinsi berbeda, yakni Sumatera Barat dan Jambi, hubungan historis di antara keduanya begitu erat dan saling memengaruhi. Artikel ini membahas bagaimana Kerajaan Minangkabau menjadi asal-usul dari Kesultanan Jambi dan pengaruh budaya yang dibawanya hingga membentuk struktur sosial-politik Jambi di masa lampau.
1. Minangkabau: Negeri Tua Penuh Warisan Sejarah
Wilayah Minangkabau diyakini telah dihuni sejak zaman batu muda atau Neolitikum, sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Bukti sejarah seperti menhir dan peninggalan arkeologis lainnya banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa wilayah ini telah memiliki struktur sosial dan budaya yang cukup maju sejak masa prasejarah.
Dalam catatan sejarah dan tambo Minangkabau, tokoh legendaris bernama Sang Sapurba dikenal sebagai leluhur utama. Ia dikisahkan turun dari Bukit Siguntang Mahameru dan kemudian menjadi raja pertama Minangkabau. Dari keturunan Sang Sapurba inilah lahir banyak raja-raja Melayu di Sumatera, termasuk yang kelak memimpin Palembang, Jambi, hingga Aceh.
Kerajaan Minangkabau berkembang menjadi pusat budaya dan politik yang cukup dominan di wilayah Sumatera bagian tengah. Dalam sistem adat dan kekerabatan yang kuat, Minangkabau memiliki dua sistem pemerintahan adat: Koto Piliang (aristokratis) dan Bodi Caniago (demokratis), yang kelak menjadi warisan penting dalam struktur budaya Melayu di Jambi.
2. Pagaruyung dan Perluasan Pengaruh ke Jambi
Kerajaan Pagaruyung merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Minangkabau yang memiliki pengaruh besar terhadap wilayah sekitarnya, termasuk Jambi. Dalam tambo Minangkabau, diceritakan bahwa Datuk Ketumanggungan, salah satu tokoh adat Minangkabau, mengamanatkan kepada keturunannya untuk mendirikan kerajaan-kerajaan di luar Pagaruyung, termasuk di Jambi, Palembang, dan Siak.
Amanat ini bukan hanya bertujuan politik, tetapi juga menjadi strategi diplomasi dan ekspansi budaya. Dalam tambo disebutkan dengan jelas: “Dirikan kerajaan di tanah Jambi akan maisi emas manah kepada kita,” yang menunjukkan bahwa Jambi dianggap penting karena kekayaan sumber daya alamnya, terutama emas.
Proses ini memperlihatkan bahwa pendirian Kesultanan Jambi bukanlah sesuatu yang terlepas dari pengaruh Minangkabau. Bahkan banyak raja dan bangsawan di Jambi yang masih mengklaim garis keturunan dari Daulat Yang Dipertuan Pagaruyung, yang secara tidak langsung memperkuat legitimasi kekuasaan mereka.
3. Putri Selaro Pinang Masak: Penghubung Pagaruyung dan Jambi
Salah satu tokoh kunci dalam sejarah berdirinya Kesultanan Jambi adalah Putri Selaro Pinang Masak. Ia dikenal dalam sejarah Jambi sebagai sosok sentral yang membawa pengaruh Minangkabau ke wilayah pesisir timur Sumatera. Putri ini merupakan anak dari Raja Pagaruyung, yakni Ananggawarman, yang memerintah sekitar abad ke-14.
Putri Selaro Pinang Masak menikah dengan Datuk Paduko Berhalo, seorang bangsawan asing yang dikisahkan berasal dari Istanbul. Dari pernikahan mereka, lahirlah generasi baru yang menjadi cikal bakal para pemimpin adat dan bangsawan di Jambi. Anak-anak mereka kemudian dikenal dengan gelar Orang Kayo Pingai, Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Kedataran, dan Orang Kayo Gemuk, yang memiliki peran penting dalam sistem kemasyarakatan Jambi.
Selain itu, saudari Putri Selaro Pinang Masak, yaitu Putri Panjang Rambut, juga menetap di Jambi dan ikut berperan dalam pembentukan struktur adat setempat. Keturunan dari dua perempuan Pagaruyung ini menjadi fondasi dari apa yang kemudian dikenal sebagai bangsa XII—kelompok bangsawan adat yang memimpin Jambi dalam masa-masa awal berdirinya kesultanan.

4. Legenda Tun Telanai dan Transisi Kekuasaan
Cerita rakyat Jambi menyimpan kisah menarik tentang Tun Telanai, seorang raja yang jatuh cinta kepada Putri Selaro Pinang Masak. Dalam legenda tersebut, Tun Telanai mencoba meminang sang putri, namun diberikan syarat yang sulit: membangun istana megah dalam satu malam sebelum ayam berkokok. Meski hampir berhasil, siasat Putri yang membawa obor membuat ayam berkokok lebih cepat, menyebabkan permintaan itu gagal dipenuhi.
Meskipun pernikahan itu batal, Tun Telanai tetap mengakui Putri Selaro Pinang Masak sebagai ahli waris kekuasaannya. Hal ini menjadi titik awal transisi kekuasaan dari tokoh lokal Jambi kepada keturunan Minangkabau. Legenda ini diyakini sebagai simbol masuknya pengaruh baru ke wilayah Jambi dengan cara yang diplomatis dan elegan.
Dalam perspektif sejarah, kisah ini menunjukkan cara-cara halus yang digunakan Minangkabau untuk memperluas pengaruhnya. Bukan dengan penaklukan militer, melainkan melalui pernikahan politik, diplomasi adat, dan penghormatan terhadap tatanan lokal yang sudah ada sebelumnya.
5. Struktur Adat Jambi dan Jejak Minangkabau
Salah satu bukti kuat dari pengaruh Minangkabau terhadap Jambi adalah kesamaan dalam sistem adat. Lembaga Adat Melayu Jambi menyebut bahwa dua tokoh penting pembentuk adat Jambi adalah Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketemanggungan. Keduanya adalah figur sentral dalam struktur adat Minangkabau, masing-masing mewakili sistem Bodi Caniago dan Koto Piliang.
Sistem kekerabatan matrilineal, pembagian kaum, peran ninik mamak, dan musyawarah adat dalam masyarakat Jambi memiliki banyak kemiripan dengan yang diterapkan di Minangkabau. Bahkan beberapa istilah adat dan gelar kehormatan yang digunakan di Jambi juga masih mempertahankan unsur bahasa dan struktur Minang.
Kesamaan ini menunjukkan bahwa pengaruh Minangkabau tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kultural yang sangat mendalam. Jejak ini masih terlihat hingga kini dalam bentuk upacara adat, pembentukan lembaga adat, dan relasi sosial dalam masyarakat Jambi.
6. Melacak Akar Sejarah Lokal yang Terkoneksi
Hubungan antara Minangkabau dan Jambi adalah cerminan dari jalinan sejarah yang erat antar wilayah di Nusantara. Dari tambo, legenda, hingga catatan kolonial Belanda, semuanya memperkuat bahwa Kesultanan Jambi memiliki akar yang kuat dari Kerajaan Pagaruyung. Proses ini terjadi melalui pernikahan, migrasi, serta penyebaran adat dan struktur pemerintahan.
Pemahaman atas asal-usul Kesultanan Jambi dari Kerajaan Minangkabau juga mengajarkan kita tentang pentingnya pendekatan budaya dalam penyebaran pengaruh kekuasaan. Pendekatan ini berhasil membangun struktur sosial yang solid dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal.
Melestarikan narasi sejarah ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga bagian dari penguatan identitas dan kebanggaan daerah. Koneksi antara Minangkabau dan Jambi sepatutnya menjadi inspirasi dalam membangun kembali semangat persatuan, menghargai warisan budaya, dan memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Sumber:
Rahim, Arif. “Kerajaan Minangkabau Sebagai Asal-usul Kesultanan Jambi.” Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi 21.1 (2021): 399-412.
















