Di KAMPUNG-kampung Minangkabau, rabab bukan sekadar alat musik gesek berbadan kecil dari tempurung kelapa dengan tiga senar kawat atau tali nilon. Rabab adalah suara leluhur, Biola berdawai tiga yang terbuat dari batok kelapa dan kulit kambing itu dulunya hanya terdengar di surau-surau kecil, di acara kenduri, atau di dangau tengah sawah ketika petani beristirahat.
Seorang tukang rabab biasanya disebut tukang sijobang atau tukang kaba duduk bersila, memetik dawai sambil bercerita panjang. Ia bukan sekadar pemusik, tapi juga penyampai hiktih, kaba, pantun, saluang jo rabab, hingga cerita-cerita randah tentang perjalanan Anggun Nan Tongga, pertarungan Datuk Marinyawa dan Datuk Perpatih, atau kisah tragis Siti Zubaidah yang menangis darah, Kuciang Badabiah, Anggun Nan Tongga, atau petualangan Malin Kundang yang nakal.
Setiap malam, orang kampung duduk bersila di surau atau di bawah pohon randu, mendengar suara rabab yang mendayu, kadang menggebu, kadang menggelegar, mengiringi dendang yang penuh makna. “Rabab indak mati dek hujan, indak lapeh dek paneh,” kata orang tua dulu. Tapi zaman berubah. Televisi datang, lalu handphone, lalu TikTok, YouTube. Anak-anak muda lebih suka dangdut koplo atau K-pop. Rabab mulai sunyi. Banyak pembaok tua meninggal, muridnya sedikit. Tahun 2010-an, orang mulai khawatir: “Rabab tingga namo do.”
Waktu berubah. Anak muda kini lebih sering memegang ponsel daripada parang. Surau mulai sepi, kenduri digantikan reuni di kota. Rabab terancam jadi fosil hidup, hanya muncul di museum atau saat ada turis yang minta difoto.
Tapi Minangkabau itu licik dalam menjaga warisan. Alih-alih meratap, mereka membawa rabab ke dunia baru: media digital segingga rabab tidak mati, Ia berpindah rumah.
Pertama muncul di YouTube sekitar tahun 2012–2015. Channel-channel kecil bermunculan: “Rabab Pasisie,” “Saluang Dendang Minang,” “Kaba Rabab Minang.” Awalnya rekaman sederhana, pakai handphone, cahaya lampu neon, latar kain sarung. Tapi penontonnya ribuan, bahkan puluhan ribu. Orang rantau di Jakarta, Malaysia, bahkan Belanda, tiba-tiba bisa mendengar suara kampung lagi. Komennya banjir: “Rindu kampuang… nangih den danga kaba ko.”
Lalu datang generasi baru yang lebih nekat. Mereka bukan hanya merekam, tapi “meracik ulang” rabab.
Tahun 2016, seorang pemuda dari Payakumbuh bernama Roni Putra atau lebih dikenal sebagai Roni Rabab mengunggah video pertamanya di YouTube. Ia duduk di teras rumah kayu, mengenakan baju teluk belango, memainkan rabab sambil membawakan kaba “Malin Kundang” versi pendek 8 menit. Tidak ada editing mewah, hanya kamera ponsel disenderkan ke tembok. Dalam seminggu, video itu ditonton lebih dari 100 ribu kali. Komentar berdatangan: “Baru tahu rabab bisa sekencang ini!” “Bisa minta versi full dong, Bang?”
Sejak itu, pintu air terbuka.
Kini, di TikTok dan Instagram, muncul puluhan bahkan ratusan akun rabab muda. Ada @rababpasisie yang memainkan rabab dengan beat trap di bawahnya. Ada @sijobangmodern yang menggabungkan petikan rabab dengan gitar elektrik, membawakan kaba “Rancak Bana Cinto”. Ada pula @nenekrabab, seorang nenek berusia 70-an dari Solok yang viral karena tetap lincah memetik rabab sambil bercerita dengan logat Medan-Minang campur aduk.
Mereka tidak hanya mengunggah pertunjukan. Mereka mengajar. Tutorial “Cara memainkan talempong pacak ala rabab” atau “Petikan dasar sijobang untuk pemula” ditonton jutaan kali. Anak-anak di Jakarta, Surabaya, bahkan di Belanda dan Malaysia, mulai memesan rabab secara online lewat Tokopedia atau Shopee. Pengrajin rabab di Sawahlunto yang tadinya hanya membuat 2-3 buah per tahun, kini kewalahan memenuhi pesanan.
Yang paling menarik, kaba—cerita epik lisan yang biasanya berdurasi berjam-jam—kini dipotong-potong jadi episode 5-10 menit untuk Reels dan YouTube Shorts. Judulnya pun disesuaikan: “Malin Kundang balik kampung tapi mamaknya udah nggak kenal 😭 (Part 1/20)”. Penonton yang tadinya hanya nenek-nenek di kampung, kini jadi remaja yang biasa nonton anime. Mereka malah request: “Bang, lanjutin dong ceritanya, penasaran Malin mati apa nggak!”
Tapi perubahan ini juga membawa perdebatan panjang.
Para sesepuh di Padang Panjang menggeleng-geleng kepala. “Rabab itu suci,” kata mereka. “Kalau dicampur beat DJ, lagu dangdut, atau dipotong-potong, hilang sudah rohnya.” Ada yang sampai menangis di acara pertemuan adat: “Kaba bukan konten, nak. Kaba itu warisan.”
Di sisi lain, anak-anak muda menjawab: “Kalau kami tidak bawa rabab ke TikTok, dalam 10 tahun lagi siapa yang mau dengar? Lebih baik rabab hidup di ponsel daripada mati di museum.”
Dan ternyata, rabab yang “merdeka” di dunia digital ini mulai balik ke ranah nyata. Banyak anak muda yang awalnya kenal rabab dari TikTok, kemudian pulang kampung, belajar langsung ke tukang rabab tua, dan mendirikan sanggar. Festival Rabab Digital digelar tiap tahun di Bukittinggi di mana rabab tradisional dan rabab elektrik bermain berdampingan. Penontonnya? Campuran antara orang tua berbaju basiba dengan anak muda bertato dan berambut warna-warni.
Rabab tidak lagi hanya milik sawah dan surau. Ia kini hidup di saku kita, di earphone kita, di playlist Spotify bertajuk “Rabab Hits 2025”. Ia tetap bercerita tentang cinta, pengkhianatan, dan perjalanan pulang hanya saja, kini cerita itu sampai ke telinga anak cucu yang lahir di era layar sentuh.
Dan entah bagaimana, saat mendengar petikan rabab di tengah malam lewat video TikTok, tiba-tiba ada rasa rindu kampung yang datang meski kita sedang duduk di kosan Jakarta, ribuan kilometer dari Ranah Minang.
Sekarang, rabab tidak lagi hanya milik orang tua di surau. Ia hidup di Spotify playlist “Minang Minang Modern,” di Reels Instagram, di podcast kaba versi audio, bahkan di game mobile bertema Minang yang memakai musik rabab sebagai soundtrack. Ada komunitas “Rabab Digital Minang” yang tiap minggu bikin konten baru: tutorial main rabab untuk pemula, reaction kaba klasik vs modern, hingga dokumenter mini tentang maestro rabab seperti Alwi St. Datuak Majo Indo.
Orang tua dulu mungkin menggeleng-geleng kepala melihat rabab dipadukan dengan autotune dan beat trap. Tapi di balik itu, mereka tersenyum kecil. Karena anak-anak sekarang bisa memainkan “Indang Badindin” dengan rabab listrik berlampu LED, lalu langsung bilang, “Niniak denai dulu juo maingkan ko.”
Rabab Minangkabau tidak mati. Ia hanya pindah rumah, dari surau ke cloud, dari tangan keriput ke jari-jari yang lincah di layar sentuh. Dan selama ada orang Minang yang masih berkata “baa den?” di kolom komentar, rabab akan terus berdendang, walau kini suaranya terkirim lewat sinyal 5G.
Rabab tidak mati. Ia hanya berubah bentuk. Dari dawai batok kelapa, kini ia menjadi gelombang digital tetap berdenyut, tetap bercerita, tetap merindu. Dan baju barunya, ternyata, kekinian banget.
















