Selamat datang di panggung teater termegah Sumatera Barat sepanjang Juni 2026, sebuah musim di mana “idealisme” bisa diseduh dan heroisme diukur dari pekatnya cairan hitam di cangkir porselen. Judul di atas bukan sedang membicarakan skandal asmara biasa, melainkan sebuah libido kelompok yang tak tertahankan untuk terus merawat syahwat politik dengan topeng gerakan moral. Sungguh mengagumkan melihat bagaimana para ketua umum Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Organisasi Mahasiswa Eksternal (Ormek) di ranah Minang belakangan ini begitu fasih meramu koreografi perlawanan yang sangat adaptif. Ketika mesin-mesin buldozer pemerintah sedang giat-giatnya melakukan pembabatan hutan secara membabi buta tanpa pilah-pilih dari hulu ke hilir, para singa altar ini justru mendadak memiliki tingkat ketelitian yang luar biasa. Aksi mereka mendadak begitu presisi, sangat tebang pilih, dan hanya menyasar isu-isu yang “ramah lingkungan” bagi kelangsungan dapur masing-masing.
Kelucuan ini tentu menjadi sangat maklum jika kita mengintip sedikit ke balik tirai ruang sidang organisasi. Istilah “mahasiswa” rupanya telah mengalami pergeseran semantik yang revolusioner di tangan para paduka ketum ini. Di saat rambut mulai menipis dan status di Kartu Keluarga sudah sah menjabat sebagai kepala rumah tangga yang sibuk memikirkan popok anak serta uang belanja istri, jaket almamater spirituil itu tampaknya masih saja dipaksa muat di badan yang kian tambun. Sungguh sebuah dedikasi tanpa batas; menolak tua demi tetap bisa memimpin barisan “massa cair” yang lugu. Romantisme masa lalu sebagai penyambung lidah rakyat sengaja dipelihara, bukan untuk membela hak-hak publik yang terampas, melainkan sebagai komoditas posisi tawar demi mengamankan susu formula sang buah hati di rumah.
Puncak dari estetika gerakan perlawanan ini akhirnya mengkristal beberapa minggu lalu, tepatnya dalam sebuah ritus sakral yang disebut “diplomasi meja kopi” paduka ketum berhasil memindahkan gedung pimpinan sumatera barat ke jalan flamboyan. Sungguh sebuah pemandangan yang mengharukan; melihat para “pembela rakyat” duduk bersandar mesra, bertukar tawa di bawah remang lampu kafe, sembari mendiskusikan masa depan daerah yang barangkali harus diselamatkan lewat pengalihan titik aksi. Konon, kafein yang mereka teuk malam itu memiliki efek samping yang sangat instan: mampu membutakan mata dari kerusakan ekologis secara mendadak dan memindahkan rute barisan ke titik-titik yang jauh dari pusat syaraf kekuasaan. Sebuah kebetulan yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif.
Nahasnya, dinding-dinding warung kopi di Padang ternyata punya telinga, dan angin malam gemar meniupkan potongan-potongan kertas kecil ke permukaan. Belakangan, aroma kopi yang harum itu mendadak agak tengik ketika desas-desus mengenai lembaran nota pembayaran alias “biaya operasional” para aktivis ini mulai bocor halus ke permukaan. Tentu saja kita harus berprasangka baik; angka-angka yang tertera di sana pastilah hanya biaya pengganti beli cairan pembersih tenggorokan pasca-orasi, atau mungkin subsidi kuota internet demi memantau pergerakan pasar. Sungguh sebuah kebetulan yang puitis bagaimana sebuah dokumen pertanggungjawaban finansial bisa terkuak tepat setelah eskalasi kemarahan di jalanan mendadak mendingin seperti es kopi yang ditinggalkan semalaman.
Menyaksikan sirkus ini, dengan terengah saat kita seolah dipaksa menonton fenomena “Demo SPPG” alias Serikat Pemuda Pengumpul Gopek, sebuah replika murahan dari fenomena aksi bayaran yang belakangan marak. Rasanya, cukuplah para penggerak demonstrasi pembiayaan sekelas program Makan Bergizi Gratis (MBG) saja yang memakai jasa agensi sorak-sorai bermodal panci dan uang transportasi. Mahasiswa dan elite OKP selevel Sumatera Barat sungguh tidak perlu ikut-ikutan turun kelas menjadi sekadar penonton bayaran yang disetir remitansi kafein. Jika idealisme hari ini sudah resmi bertransformasi menjadi urusan perut dan transaksi di bawah meja kopi, maka barangkali di demonstrasi berikutnya, para ketum ini tidak perlu lagi membawa bendera organisasi. Cukup dengan memberi daftar menu dan notifikasi M-Bangking, agar publik tahu persis berapa harga yang harus dibayar untuk satu porsi keadilan yang mereka tandingkan.

Ditulis dengan penuh kasih oleh : Direktur Diklat & Pengabdian LKMI HMI Cabang Padang (Aqmal Marzuki)
The Review
Jika idealisme hari ini sudah resmi bertransformasi menjadi urusan perut dan transaksi di bawah meja kopi, maka barangkali di demonstrasi berikutnya, para ketum ini tidak perlu lagi membawa bendera organisasi. Cukup dengan memberi daftar menu dan notifikasi M-Bangking, agar publik tahu persis berapa harga yang harus dibayar untuk satu porsi keadilan yang mereka tandingkan.













