Jumat, Mei 29, 2026
  • Login
Sumbarzone
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini
No Result
View All Result
Sumbarzone
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Olahraga
  • Kolom & Opini
Home Kolom & Opini

Luka yang Tak Terlihat: Ketika Kekerasan terhadap Aktivis Mengoyak Humanitas

Oleh: Ricky Hardianto (Mahasiswa Studi Humanitas Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padangpanjang)

Redaksi by Redaksi
28/05/2026
in Kolom & Opini, Nasional
A A
0
Ilustrasi

Ilustrasi

FacebookTwitter

PENYIRAMAN air keras terhadap seorang aktivis bukan sekadar tindak kriminal biasa. Menurut penulis, peristiwa semacam ini merupakan simbol kegagalan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan. Kekerasan tersebut meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar
kerusakan fisik, ia merusak rasa aman, membungkam keberanian, dan mengancam ruang demokrasi yang seharusnya dijaga bersama.

Dalam perspektif humanitas, setiap manusia memiliki hak atas rasa aman, martabat, serta kebebasan untuk menyuarakan kebenaran.  Penulis melihat bahwa aktivis sering kali berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan sosial, mengkritisi kekuasaan, dan membela kelompok yang termarjinalkan. Oleh karena itu, ketika seorang aktivis diserang secara brutal, maka yang diserang bukan hanya
individu tersebut, tetapi juga nilai-nilai yang ia perjuangkan.

Penulis menilai bahwa tindakan penyiraman air keras memiliki dimensi kekerasan yang sangat kejam dan simbolik. Ia tidak hanya bertujuan melukai, tetapi juga merusak secara permanen; baik secara fisik maupun psikologis. Korban harus menghadapi trauma berkepanjangan, perubahan identitas diri, serta stigma sosial. Salah satu contoh nyata adalah kasus yang menimpa Novel Baswedan. Penulis menilai bahwa serangan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks perjuanganpemberantasan korupsi. Proses hukum yang berlangsung lama dan menuai kontroversi menunjukkan bahwa keadilan belum sepenuhnya dirasakan oleh publik.

Kasus lain yang tidak kalah penting adalah pembunuhan terhadap Munir Said Thalib. Munir dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia yang vokal. Hingga saat ini, menurut penulis, kasus tersebut masih menyisakan pertanyaan besar mengenai aktor intelektual di baliknya. Peristiwa ini menjadi simbol bagaimana suara kritis dapat dibungkam secara sistematis. Penulis juga menyoroti konflik yang terjadi di Desa Wadas. Dalam kasus ini, warga yang menolak proyek penambangan andesit mengalami tekanan, intimidasi, hingga penangkapan. Penulis melihat bahwa konflik ini bukan sekadar persoalan pembangunan, tetapi juga menyangkut hak masyarakat atas ruang hidup dan lingkungan yang sehat. Ketika suara warga dibungkam, maka yang tercederai bukan hanya individu, tetapi juga prinsip keadilan sosial.

Selain itu, penulis mencermati bahwa kekerasan juga kerap menimpa jurnalis. Jurnalis yang menjalankan fungsi kontrol sosial sering kali menghadapi intimidasi, perusakan alat kerja, hingga kekerasan fisik. Dalam beberapa kasus, peliputan isu sensitif seperti korupsi, konflik agraria, atau lingkungan justru
menempatkan jurnalis dalam posisi berbahaya. Penulis menilai bahwa ketika jurnalis diserang, maka yang terancam adalah kebebasan pers dan hak publik untuk mendapatkan informasi.

Kekerasan terhadap aktivis lingkungan juga menjadi perhatian serius. Penulis melihat bahwa dalam berbagai konflik sumber daya alam; seperti pertambangan, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur aktivis lingkungan kerap menjadi sasaran intimidasi dan kriminalisasi. Banyak dari mereka dilaporkan menghadapi ancaman hukum, tekanan sosial, bahkan kekerasan fisik karena memperjuangkan
kelestarian lingkungan. Fenomena ini menunjukkan pola yang berulang: siapa pun yang menyuarakan
kepentingan publik sering kali berhadapan dengan risiko kekerasan.

Dalam perspektif humanitas, penulis menilai bahwa kondisi ini mencerminkan dehumanisasi yakni ketika manusia tidak lagi dipandang sebagai subjek yang memiliki martabat, melainkan sebagai ancaman yang harus disingkirkan. Namun demikian, penulis berpendapat bahwa persoalan ini tidak hanya terletak
pada pelaku kekerasan. Respons negara dan masyarakat juga menjadi cerminan penting. Dalam banyak kasus, proses hukum berjalan lambat, tidak transparan, atau bahkan terkesan setengah hati. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap sistem keadilan.

Penulis menilai bahwa ketika keadilan tidak ditegakkan secara tegas, maka kekerasan berpotensi menjadi alat legitim untuk membungkam kritik. Lebih jauh lagi, kondisi ini menciptakan efek jera yang keliru masyarakat menjadi takut untuk bersuara, sementara pelaku tidak mendapatkan hukuman yang setimpal.
Selain itu, penulis juga melihat bahwa budaya kekerasan masih mengakar dalam cara sebagian masyarakat menyikapi perbedaan. Alih-alih mengedepankan dialog, kekerasan justru digunakan sebagai jalan pintas. Padahal, dalam masyarakat yang beradab, perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk diskusi, bukan konflik.

Penulis menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi warganya, terutama mereka yang berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan. Aktivis, jurnalis, dan pembela HAM seharusnya mendapatkan perlindungan ekstra. Tanpa itu, demokrasi akan kehilangan salah satu pilar utamanya. Di sisi lain, penulis juga mengajak masyarakat untuk tidak bersikap pasif. Solidaritas terhadap korban harus diwujudkan dalam bentuk nyata, termasuk mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam penegakan hukum. Media, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil memiliki peran strategis dalam
menjaga isu ini tetap hidup. Pada akhirnya, penulis mengajak untuk merefleksikan kembali makna humanitas.

Apakah masyarakat benar-benar menghargai kehidupan manusia? Ataukah masih ada pembenaran terhadap kekerasan demi kepentingan tertentu? Menurut penulis, berbagai kasus seperti yang dialami Novel Baswedan, Munir, konflik Wadas, serta kekerasan terhadap jurnalis dan aktivis lingkungan menunjukkan bahwa perjuangan untuk menjaga nilai kemanusiaan masih panjang. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan kebebasan, tetapi juga perlindungan terhadap mereka yang berani bersuara.

Penulis menyimpulkan bahwa ukuran sebuah masyarakat yang beradab tidak hanya terletak pada kemajuan ekonominya, tetapi pada bagaimana ia memperlakukan suara-suara kritis. Jika kekerasan terus digunakan untuk membungkam, maka yang hancur bukan hanya individu, tetapi juga nilai-nilai
kemanusiaan itu sendiri.

ShareTweet
Previous Post

Sarjana Menganggur di Ranah Minang: Ketika Gelar Tak Lagi Jadi Jaminan

Next Post

Ekologi dan Kuasa Kritik Humanitas dalam Pementasan Teater Nilonali KS-Kuliek Padang

Redaksi

Redaksi

Next Post
Pementasan Nilonali KS-Kuliek (doc.kuliek)

Ekologi dan Kuasa Kritik Humanitas dalam Pementasan Teater Nilonali KS-Kuliek Padang

Ilustrasi (doc.ricky)

Makan Bergizi Gratis: Antara Niat Baik, Realitas Lapangan, dan Tantangan Humanitas

Pertunjukan Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan (doc.katagerak)

Perebutan Agensi Perempuan pada Tari Kontemporer Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Poster Diskusi Kader : Talkshow Nasional

Gizi, Kuasa, dan Daulat Daerah: Menguji Nalar Kebijakan Makan Bergizi Gratis

30 Januari 2026
DPRD Kota Pariaman bersama Forkopimda dan pimpinan OPD mengikuti rapat paripurna penetapan Perda APBD-P TA 2025. (Dok: Pemko Pariaman)

DPRD dan Pemko Pariaman Tetapkan Perda APBD-P TA 2025

20 Agustus 2025
Sumber: Instagram @eriksonjkambari

Kreativitas dalam Seni Tradisional Minangkabau

4 Mei 2025
Rangkayo Rajo Sampono, Pucuk Adat Nagari Katapiang saat memberi sambutan pada acara Pekan Budaya Nagari Katapiang Baghalek Gadang

Pemekaran Padang Pariaman Selatan Kian Dekat, Panitia Tunggu SK untuk Deklarasi

21 Agustus 2025
Bakso Lava Viral

Bakso Lava Viral di Kota Padang yang Mengguncang Lidah: Teras Kelapa

Air Terjun Nyarai

Keindahan Air Terjun Nyarai Gamaran: Surga Tersembunyi di Sumatera Barat

Danau Talang

Danau Talang: Destinasi Wisata Alam Indah di Sumatera Barat

Di bawah langit jingga, Istano Basa Pagaruyung bercerita tentang sejarah, kemegahan, dan keabadian budaya. (Foto: @rudyci2016)

Fakta Sejarah Istano Basa Pagaruyung

Pertunjukan Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan (doc.katagerak)

Perebutan Agensi Perempuan pada Tari Kontemporer Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan

28 Mei 2026
Ilustrasi (doc.ricky)

Makan Bergizi Gratis: Antara Niat Baik, Realitas Lapangan, dan Tantangan Humanitas

28 Mei 2026
Pementasan Nilonali KS-Kuliek (doc.kuliek)

Ekologi dan Kuasa Kritik Humanitas dalam Pementasan Teater Nilonali KS-Kuliek Padang

28 Mei 2026
Ilustrasi

Luka yang Tak Terlihat: Ketika Kekerasan terhadap Aktivis Mengoyak Humanitas

28 Mei 2026

Berita Terkait

Pertunjukan Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan (doc.katagerak)

Perebutan Agensi Perempuan pada Tari Kontemporer Hamparan Kain Jemuran dalam Suatu Perjalanan

28 Mei 2026
Ilustrasi (doc.ricky)

Makan Bergizi Gratis: Antara Niat Baik, Realitas Lapangan, dan Tantangan Humanitas

28 Mei 2026
Pementasan Nilonali KS-Kuliek (doc.kuliek)

Ekologi dan Kuasa Kritik Humanitas dalam Pementasan Teater Nilonali KS-Kuliek Padang

28 Mei 2026
Ilustrasi

Luka yang Tak Terlihat: Ketika Kekerasan terhadap Aktivis Mengoyak Humanitas

28 Mei 2026
  • Home
  • Tentang
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
Hubungi Kami: +62 877-3827-4008

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Nasional
  • Olahraga
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Pendidikan
  • Travel
  • Kolom & Opini

© 2025 Sakomedia.ID - PT. Sako Media Digital

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In