DALAM ERA digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat global. Salah satu platform media sosial yang mengalami pertumbuhan pesat dan memiliki pengaruh besar adalah Instagram. Diluncurkan pada 2010, Instagram awalnya dirancang sebagai aplikasi berbagi foto dengan fitur sederhana.
Namun, seiring waktu, Instagram berkembang menjadi salah satu ekosistem media digital yang kompleks, melibatkan berbagai aktor ekonomi, teknologi, dan budaya. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari konteks politik dan ekonomi yang membentuk struktur dan praktik media digital secara luas.
Pendekatan Teori Politik-Ekonomi Media sangat relevan untuk memahami perkembangan Instagram karena teori ini menyoroti bagaimana kepemilikan media, dominasi modal, dan model bisnis kapitalisme platform memengaruhi produksi, distribusi, dan konsumsi konten di media digital (Mosco, 1996; Srnicek, 2017).
Dengan menggunakan lensa ini, Instagram tidak hanya dipandang sebagai teknologi atau produk inovasi, tetapi sebagai bagian dari sistem kapital yang mengatur bagaimana informasi dan pengalaman digital diproduksi dan dikendalikan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana struktur ekonomi dan politik di balik Instagram membentuk pola komunikasi dan budaya digital, serta dampaknya terhadap akses dan partisipasi pengguna di platform tersebut.
Perkembangan media sosial seperti Instagram tidak bisa dilepaskan dari transformasi ekonomi digital yang lebih luas, di mana data dan interaksi sosial menjadi komoditas bernilai tinggi. Kondisi ini memunculkan fenomena kapitalisme platform yang menggabungkan teknologi, ekonomi, dan budaya dalam satu ekosistem yang saling terkait.
Oleh karena itu, memahami Instagram melalui perspektif politik-ekonomi media memungkinkan kita menelusuri bagaimana kepentingan ekonomi korporasi besar membentuk tidak hanya teknologi dan model bisnis, tetapi juga praktik sosial dan budaya pengguna. Pendekatan ini juga membuka ruang refleksi kritis terhadap konsekuensi sosial dari dominasi modal dalam ranah digital.
- Landasan Teori Politik-Ekonomi Media
Teori Politik-Ekonomi Media berakar pada pemikiran Karl Marx mengenai kapital, relasi produksi, dan distribusi kekuasaan dalam masyarakat industri. Dalam perkembangannya, teori ini dikembangkan lebih lanjut oleh para pemikir seperti Vincent Mosco dan Robert McChesney untuk menganalisis media modern, termasuk media digital. Mosco (1996) menegaskan bahwa ekonomi politik media adalah studi tentang relasi sosial, khususnya relasi kekuasaan, yang memengaruhi produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya komunikasi. Dengan kata lain, media tidak pernah netral; ia selalu berada dalam struktur kepemilikan dan kekuasaan modal yang menentukan arah dan isi pesan yang diproduksi serta didistribusikan ke publik .
Dalam konteks media digital, Srnicek (2017) memperkenalkan konsep kapitalisme platform, yaitu situasi di mana perusahaan teknologi besar memonopoli pasar melalui pengumpulan data pengguna secara masif dan komodifikasi data tersebut menjadi sumber utama keuntungan.
Instagram, sebagai bagian dari ekosistem Meta Platforms, beroperasi dalam kerangka ini. Platform ini tidak hanya menyediakan ruang interaksi sosial, tetapi juga mengubah aktivitas pengguna menjadi data yang dapat diperdagangkan dan dimonetisasi melalui model bisnis iklan yang sangat tertarget. Proses ini dikenal sebagai komodifikasi, di mana konten, audiens, bahkan interaksi sosial diubah menjadi barang dagangan yang bernilai ekonomi
Lebih jauh, teori ini juga menyoroti bagaimana struktur kepemilikan dan logika pasar membentuk pengalaman digital pengguna. Kontrol atas data dan algoritma penayangan konten memungkinkan korporasi seperti Meta untuk memaksimalkan keuntungan sekaligus mengarahkan pola konsumsi informasi dan perilaku pengguna di Instagram.
Dengan demikian, pengalaman bermedia sosial di Instagram tidak lepas dari relasi kekuasaan ekonomi yang bekerja secara sistemik, di mana kepentingan modal dan struktur pasar menjadi penentu utama dalam produksi dan distribusi pesan digital. Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa perkembangan teknologi dan media sosial seperti Instagram bukan sekadar hasil inovasi teknis, melainkan juga produk dari dinamika ekonomi-politik yang kompleks.
- Kepemilikan dan Konsolidasi Korporasi
Salah satu karakteristik utama dari ekosistem media digital kontemporer adalah meningkatnya proses konsolidasi korporasi, di mana sejumlah kecil perusahaan besar menguasai sebagian besar platform utama yang digunakan masyarakat. Akuisisi Instagram oleh Facebook pada tahun 2012, yang kini bertransformasi menjadi Meta Platforms, adalah contoh nyata dari tren ini.
Akuisisi tersebut tidak hanya memperbesar skala bisnis Meta, tetapi juga memperluas kendali mereka atas data, teknologi, serta perilaku digital miliaran pengguna di seluruh dunia. Melalui integrasi lintas-platform, Meta mampu memanfaatkan sinergi data antara Instagram, Facebook, WhatsApp, dan produk digital lainnya untuk memperkuat posisi bisnis mereka secara global.
Dominasi Meta sebagai pemilik Instagram membawa konsekuensi penting dalam konteks kebebasan dan keragaman media. Dengan menguasai infrastruktur digital inti, Meta memiliki kapasitas untuk menentukan standar, regulasi internal, dan algoritma yang mengatur distribusi serta visibilitas informasi di Instagram.
Hal ini berpotensi membatasi munculnya suara-suara alternatif, membentuk agenda informasi sesuai dengan kepentingan bisnis korporasi, dan mengurangi ruang bagi narasi independen atau komunitas minoritas. Sebagaimana diuraikan oleh Mosco (1996), pola kepemilikan terpusat semacam ini memperkuat logika pasar dan akumulasi kapital, yang pada akhirnya dapat mengancam prinsip pluralisme dan demokrasi dalam ranah digital.
Lebih jauh, konsolidasi korporasi juga berdampak pada dinamika persaingan dan inovasi di industri media sosial. Kehadiran aktor dominan seperti Meta dapat menghambat masuknya pemain baru, memperlebar jurang ketimpangan sumber daya, dan menciptakan hambatan struktural bagi pengembangan alternatif yang lebih inklusif serta berorientasi pada kepentingan publik.
Dengan demikian, analisis kepemilikan dan konsolidasi korporasi tidak hanya penting untuk memahami struktur ekonomi Instagram, tetapi juga untuk menyoroti dinamika kekuasaan yang membentuk pengalaman digital pengguna dan masa depan budaya media sosial.
- Model Bisnis Kapitalisme Platform: Iklan dan Komodifikasi Data
Instagram telah bertransformasi menjadi salah satu platform utama dalam ekosistem bisnis digital, di mana model bisnisnya sangat bergantung pada pendapatan iklan dan pengumpulan data pengguna secara masif. Dalam kerangka kapitalisme platform, data pribadi pengguna mulai dari preferensi, perilaku, hingga Lokasi dikumpulkan, dianalisis, dan diolah untuk menghasilkan segmentasi pasar yang sangat spesifik.
Proses ini memungkinkan Instagram menawarkan layanan iklan yang sangat tertarget, sehingga pengiklan dapat menjangkau audiens yang paling relevan dengan produk atau jasa mereka. Dengan demikian, Instagram tidak hanya menjadi ruang interaksi sosial, tetapi juga mesin pemasaran digital yang efisien dan efektif bagi pelaku bisnis dari berbagai skala.
Namun, praktik komodifikasi data ini menimbulkan sejumlah tantangan etis dan sosial. Pengguna sering kali tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana data mereka dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi platform. Isu privasi dan pengawasan digital menjadi semakin penting, terutama ketika kontrol atas data lebih banyak berada di tangan korporasi daripada pengguna sendiri.
Selain itu, algoritma yang mengatur penyajian konten di Instagram sangat dipengaruhi oleh logika pasar dan kepentingan bisnis, sehingga dapat memperkuat bias, mengarahkan perhatian pada konten komersial, dan menciptakan ketimpangan dalam distribusi informasi. Lebih jauh, model bisnis ini juga mendorong munculnya fenomena User-Generated Content (UGC), di mana pengguna didorong untuk secara aktif memproduksi dan membagikan konten yang pada akhirnya juga dimonetisasi oleh platform.
Dengan demikian, setiap aktivitas pengguna di Instagram secara tidak langsung berkontribusi pada akumulasi kapital bagi korporasi, mempertegas posisi Instagram sebagai instrumen kapitalisme platform yang mengintegrasikan interaksi sosial dan ekonomi dalam satu ekosistem digital.
- Privatisasi Infrastruktur Digital dan Ketimpangan Akses
Privatisasi infrastruktur digital oleh perusahaan besar seperti Meta Platforms telah menciptakan lanskap media sosial yang semakin terpusat dan eksklusif. Meskipun Instagram tampak sebagai ruang terbuka dan inklusif, kenyataannya akses dan visibilitas konten sangat dipengaruhi oleh struktur ekonomi dan teknologi yang tidak merata. Algoritma Instagram cenderung memprioritaskan konten dari akun-akun yang memiliki modal ekonomi lebih besar atau mampu membayar untuk promosi, sementara konten dari pengguna biasa seringkali tenggelam di tengah arus informasi.
Ketimpangan ini tidak hanya terjadi pada level ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan akses teknologi, seperti perangkat yang digunakan, kualitas jaringan internet, dan kemampuan digital pengguna. Bagi pelaku bisnis kecil atau individu dengan sumber daya terbatas, biaya untuk beriklan atau meningkatkan visibilitas di Instagram bisa menjadi hambatan signifikan.
Akibatnya, jurang antara aktor ekonomi dominan dan pengguna biasa semakin melebar, yang berdampak pada ketimpangan kesempatan untuk berpartisipasi, mempromosikan produk, atau menyuarakan pendapat di ruang digital.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun media sosial seperti Instagram menawarkan peluang baru dalam pemasaran dan komunikasi, realitasnya tetap dipengaruhi oleh struktur ekonomi yang tidak seimbang. Dengan demikian, penting untuk mengkritisi narasi inklusivitas digital dan memahami bahwa akses serta partisipasi di Instagram sangat dipengaruhi oleh dinamika privatisasi dan kapitalisasi infrastruktur digital.
- Implikasi Sosial-Budaya
Selain aspek ekonomi, perkembangan Instagram juga membawa dampak signifikan terhadap budaya digital dan sosial masyarakat. Platform ini telah menjadi ruang utama bagi reproduksi ideologi konsumsi dan gaya hidup kapitalis, di mana narasi visual tentang estetika, status sosial, dan konsumsi produk menjadi bagian penting dari identitas digital pengguna.
Influencer, brand, dan pelaku bisnis memanfaatkan Instagram untuk membangun citra, mempromosikan produk, dan memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat secara luas. Dominasi konten komersial dan promosi gaya hidup di Instagram berpotensi memperkuat budaya pasar yang homogen, di mana nilai-nilai konsumtif dan estetika visual menjadi standar utama dalam interaksi sosial.
Hal ini sejalan dengan pandangan McChesney (1999) bahwa media kaya tanpa demokrasi yang kuat cenderung memperkuat dominasi budaya pasar dan mengurangi ruang bagi keragaman budaya serta narasi alternatif. Selain itu, algoritma yang mengatur distribusi konten juga dapat memperkuat bias dan membatasi eksposur terhadap perspektif yang berbeda, sehingga mempersempit ruang diskusi publik yang sehat.
Dengan demikian, Instagram tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai arena perjuangan ekonomi dan budaya yang dibentuk oleh kepentingan modal. Kondisi ini menuntut kesadaran kritis dari pengguna dan masyarakat luas terhadap bagaimana budaya digital dibentuk, dikonsumsi, dan dipengaruhi oleh logika kapitalisme platform yang mendasari operasional Instagram. (*)
















