AGAM, SUMBARZONE.COM — Ketegangan luar biasa dialami Dasril (53), seorang petani asal Jorong Batu Gadang, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam. Saat menebas rumput di sawahnya Minggu pagi (12/10/2025), ia tak menyangka bakal berhadapan langsung dengan dua ekor anak Harimau Sumatera dari jarak sangat dekat.
“Badantuang darah, jantuang badatak kancang,” ujar Dasril menggambarkan detik-detik menegangkan itu saat ditemui wartawan, Kamis (16/10/2025).
Ungkapan dalam bahasa Minang itu berarti darah terasa berdesir dan jantung berdebar kencang.
Menurut Dasril, kejadian terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, ia tengah menebas rumput di pinggir sungai kecil di samping sawahnya. Tak disangka, dua anak harimau muncul dari balik semak di seberang sungai yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Lokasi sawah itu sendiri berada tak jauh dari ruas jalan lintas Bukittinggi–Medan.
“Saya kaget, harimaunya juga kaget. Kami saling pandang sebentar, lalu dua ekor itu langsung lompat ke bawah tebing sungai. Karena panik, saya pun lari ke arah pondok,” tutur Dasril sambil menunjukkan lokasi kejadian kepada wartawan.
Beberapa jam kemudian, petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mendatangi lokasi untuk memastikan jejak keberadaan satwa dilindungi tersebut. Dari pengamatan di lapangan, ditemukan sejumlah jejak kaki harimau di tanah basah yang diduga milik dua anak harimau tersebut.
Sebelumnya, kemunculan harimau juga sempat dilaporkan oleh pengendara yang melintas di jalan Bukittinggi–Medan pada Sabtu malam.
Pihak BKSDA menduga, dua anak harimau yang terlihat oleh Dasril merupakan bagian dari kelompok yang sama dan tengah terpisah dari induknya.
Kepala BKSDA Sumbar melalui tim lapangan menyampaikan, pihaknya terus memantau pergerakan satwa ini menggunakan drone thermal serta memasang kamera jebak di sejumlah titik rawan di kawasan Palupuah.
“Kami imbau warga untuk tidak mendekat atau mencoba mengusir hewan ini. Harimau termasuk satwa yang sensitif terhadap gangguan,” ujar petugas.
Sementara itu, aktivitas warga sekitar Nagari Koto Rantang mulai dibatasi. Sebagian petani memilih tidak ke sawah hingga situasi benar-benar aman.
“Sejak kejadian itu, saya belum berani ke sawah sendirian,” ungkap Dasril.
BKSDA memastikan akan terus melakukan patroli dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar tetap tenang namun waspada.
Kemunculan harimau di kawasan ini disebut sebagai indikasi bahwa habitat alami mereka di hutan sekitar Palupuah masih aktif dan menjadi jalur lintasan satwa besar tersebut.

















