Sumbarzone.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan universitas di Indonesia serta Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra memfasilitasi pengiriman 12 mahasiswa sebagai Asisten Guru Bahasa Indonesia di Australia.
Program praktik mengajar internasional ini diikuti mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang dan Universitas Pendidikan Indonesia. Sebanyak delapan mahasiswa bertugas di Canberra, sementara empat lainnya di Melbourne, selama satu term atau sepuluh minggu, sejak 22 Juli hingga 26 September 2025.
“Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menyebut program ini sebagai upaya meningkatkan kompetensi calon lulusan universitas dengan pengalaman mengajar di luar negeri, khususnya di Australia,” ujar Yuli dalam keterangan pers, 24 Juli 2025.
Program ini melibatkan tiga sekolah di Canberra, yaitu St. Clare of Assisi, Trinity Christian School, dan Islamic School Canberra. Di Melbourne, dua sekolah yang menjadi tempat praktik mengajar adalah Huntingtower School dan Braemar College. Selain mendukung pengajaran bahasa Indonesia, mahasiswa juga diberi kesempatan mengajar sesuai program studi masing-masing.
“Kami berharap program yang dirintis sejak 2023 ini terus berjalan dan memotivasi mahasiswa serta kampus-kampus di Indonesia untuk mengembangkan praktik mengajar di luar negeri. Kehadiran guru bantu bahasa Indonesia juga mendukung upaya pemerintah dalam internasionalisasi bahasa Indonesia,” tambah Yuli.
Kantor Atdikbud KBRI Canberra mendampingi mahasiswa di Canberra, termasuk membantu pertemuan dengan kepala sekolah, guru, dan siswa, serta pengurusan izin interaksi dengan siswa maupun kelompok rentan (Working With Vulnerable People/WWVP), yang menjadi syarat wajib di Australia.
Guru Bahasa Indonesia di St. Clare of Assisi, Margo Smith, mengapresiasi program ini. “400 siswa adalah jumlah yang sangat banyak, jadi dengan adanya guru bantu membuat semuanya lebih baik,” katanya.
Mahasiswa peserta program, Lydia Kusdyanti Lasya dari Universitas Pendidikan Indonesia, menyebut pengalaman menjadi guru bantu di Australia sangat berharga. Sebelum berangkat, seluruh mahasiswa mengikuti pembekalan daring yang menghadirkan narasumber dari Indonesia dan Australia, termasuk guru bahasa Indonesia di Huntingtower School, Tata Survi, serta alumni program sebelumnya, Tsamratul Aisyah dan Marsyanda Sandy.
Yuli menambahkan, mahasiswa diharapkan menjalankan perannya sebaik mungkin dan membawa nama baik Indonesia. “Kami akan terus mendukung mahasiswa maupun kampus untuk berkolaborasi, utamanya dalam peningkatan pembelajaran bahasa Indonesia di Australia,” tutupnya.


















